Sabtu, 12 Maret 2016

PENGARUH IPM RANTING DESA WONOREJO TERHADAP MASYARAKAT SEKITARNYA




PENGARUH IPM RANTING DESA WONOREJO TERHADAP MASYARAKAT SEKITARNYA



Disusun oleh :
  1. Choriah Hanayati        (A210140137)




UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
SURAKARTA
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Masalah utama yang dihadapi lingkungan masyarakat di sekitar desa wonorejo adalah pergaulan remaja dan pelajar yang tidak terbatas pada sekarang ini. Selain itu para orang tua kurang memperhatikan aktivitas keseharian anak-anaknya pada saat tidak bersekolah atau libur sekolah.
Salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah kegiatan remaja dan pelajar di desa wonorejo yang kurang bermanfaat atau bahkan yang berdampak buruk bagi diri mereka sendiri adalah dengan menambah kegiatan positif untuk para remaja dan pelajar yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri atau untuk masyarakat sekitar.
Pengadaan kegiatan yang positif dan produktif sebagai bagian dari proses pembenahan pola pergaulan yang negatif menjadi aktifitas yang bermanfaat terhadap kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Perubahan tersebut meliputi dampak aktifitas kegiatan yang diadakan dalam salah satu organisasi otonom (ortom) muhammadiyah tingkat ranting yaitu Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
IPM  adalah organisasi otonom Muhammadiyah, merupakan gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dikalangan pelajar yang menegakkan nilai-nilai tauhid di muka bumi, berakidah islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nilai-nilai tauhid yang telah diperjuangkan oleh para nabi sejak Nabi Adam A.S. hingga Muhammad SAW. ( Anggaran Dasar Ikatan Pelajar Muhammadiyah pasal 3 identitas).
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berdiri pada tanggal 18 Juli  1961 M. IPM Ranting Desa Wonorejo ini adalah ranting istimewa yang satu-satunya ranting desa yang masih aktif di cabang Blimbing daerah Sukoharjo.Kemunculan IPM Ranting Desa Wonorejo ini bermula dengan adanya Rezim yang berkuasa pada saat Orde Baru yang meminta IPM harus berasaskan Pancasila dalam setiap perjuangannya. Perjalana itu akhirnya berujung pada tahun 1992, sehingga nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 1922 M dan disahkan pada tanggal 18 November 1992 M. pada saat inilah organisasi IPM di sekolah harus dihapus, dengan niat yang biak untuk tetap berdakwah dikalangan Remaja maka dibentuklah IRM ranting desa di setiap ranting Muhammadiyah.
Perkembangan selanjutnya zaman runtuhnya rezim orde baru, dengan cara de facto pada tanggal 28 Oktober 2008  perubahan nama IRM menjadi IPM pada muktamar XVI IRM di Solo, dengan basis IPM adalah pelajar (anggaran dasar IPM pasal 8), sehingga pada perubahan nama ini IRM ranting Desa wonorejo menjadi IPM Ranting Desa.
Dengan adanya pengambalian nama tersebut IPM Ranting Desa wonorejo tetap besikukuh untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkarnya dengan membentuk 3 bidang pokok, yang meliputi bidang umum (ketua umum dan wakil, sekretaris umum dan wakil, bendahara umum dan 2 pembantu bendahara), bidang Kajian Dakwah Islam (KDI), dan bidang Apresiasi seni budaya dan olahraga (ASBO).
Dampak kegiatan yang diadakan oleh IPM ranting desa wonorejo terhadap aspek seni, budaya, dan olahraga meliputi kegiataan oud bound, talk show karakter kepemimpinan, membuat asesoris, kreasi memasak, dampak lainnya terbukanya kreatifitas dan produktifitas para remaja dan pelajar dalam memanfaatkan hari liburnya.


  1. Alasan Pemilihan Judul
Penulis menulis makalah ini dengan mengambil judul PENGARUH IPM RANTING DESA WONOREJO TERHADAP MASYARAKAT SEKITARNYA berdasarkan pada alasan berikut :
1.      Penulis berkemauan untuk memberikan beberapa pengetahuannya yang dimiliki untuk disebarluaskan kepada pembaca dan masyarakat lain supaya masyarakat mengetahui manfaat dari keberadaan Ranting IPM di disa wonorejo.
2.      Judul yang penulis angkat sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat supaya para remaja dan pelajar mampu memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan yang positif.
3.      Dengan meningkatnya kegiatan remaja dan pelajar yang kurang bermanfaat maka harus ada usaha untuk mengalihkan kegiatan yang negatif dengan solusi memberikan kegiatan positif melalui organisasi IPM ranting.
4.      Penulis ingin menyampaikan tentang peran IPM ranting di desa terhadap masyarakat disekitarnya.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan IPM Ranting Desa?
2.      Mengapa IPM Ranting Desa dipertahankan?
3.      Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan  IPM ranting dalam masyarakat desa wonorejo?
4.      Bagaimana respon masyarakat terhadap keberadaan IPM di Desa wonorejo?

  1. Tujuan
1.      Mengetahui definisi dari IPM Ranting Desa.
2.      Mengetahui alasan IPM Rantig desa dipertahankan.
3.      Mengetahui bentuk-bentuk kegiatan  IPM ranting dalam masyarakat desa wonorejo.
4.      Mengetahui respon masyarakat terhadap keberadaan IPM di Desa wonorejo.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Kajian Teori
1.      Ipm Ranting Desa
IPM adalah gerakan islam amar ma’ruf nahi munkar di kalangan yang ditujukan kepada dua bidang, pertama perorangan dan kedua masyarakat. Dakwah pada bidang pertama terbagi pada dua golongan :
a.       Kepada yang telah islambersifat pembaharuan (tajdid) berdasarkan pada nilai-nilai ajaran islam.
b.      Kepada ayang belum islam bersifat seruan dan ajakan, untuk mengikuti nilai ajaran islam.
Adapun dakwah amar ma’ruf nahi munkar kedua ialah kepada masyarakat, bersifat perbaikan, bimbingan, dan peringatan. Kesemua itu dilaksanakan dengan musyawarah.
Manfaat dari adanya kegiatan yang diadakan oleh IPM ranting meliputi :
a.       Masyarakat terutama remaja dan pelajar, lebih mampu memanfaatkan hari libur sekolah
b.      remaja dan pelajar mendapat ilmu yang berguna dan memiliki sifat pemimpin dari mengikuti organisasi ini.
c.       Masyarakat merasa terbantu, dan terhibur dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan dari organisasi IPM ini.
Kegiatan-kegiatan yang ada dalam ortom IPM ranting desa wonorejo meliputi:
a.       Bidang KDI :
1)       Kajian anak-anak setiap malam ahad ba’da maghrib.
2)      Kajian rutin anggota PR IPM setiap 2 minggu sekali pada malam ahad ba’da maghrib
3)      Kajian gabungan setiap minggu ke-5
4)      Penekanan kajian malam senin di masjid agung imam syuhodo wonorejo
5)      Sema’an Al Qur’an diadakan secara fleksibel (pengganti kajian rutin)
b.      Bidang ASBO :
1)      FUN DAY di dalamnya ada olaraga (jalan-jalan dan CFD), stand up comedy, games, madding, kerajinan, dan kreasi memasak. Kegiatan FUN DAY ini akan diadakan setidaknya 1 bulan sekali dan menyesuaikan hari libur/ fleksibel.
2)      TARHIB di dalamnya ada carnival romadhon, nonbar, out bound, rihlah lembaga, dan Kegiatan TARHIB akan diadakan pada saat hari libur yang bertepatan pada hari besar/ peringatan peristiwa/ libur sekolah.
Respon dari masyarakat sekitar yang kurang antusias karena kesibukan masing- masing, sehingga kegiatan-kegiatan yang diadakan dari IPM ranting desa ini kurang berjalan dengan maksimal.
Seharusnya masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan tersebut dengan semaksimal mungkin. Pimpinan daerah seharusnya juga membantu dalam lingkup materi supaya kegiatan bisa berjalan sesuai proker-proker yang telah disusun.
2.      Lingkungan masyarakat
Menurut Paul B. Horton
Dalam lingkungan masyarakat terdapat manusia-manusia yang terbilang mandiri, sudah tinggal bersama-sama dalam jangka waktu yang cukup lama, berdiam pada satu wilayah dan memiliki kesamaan budaya. Sebagian besar dari mereka melakukan kegiatan yang sama dan berkomunikasi satu sama lain.

Keadaan lingkungan masyarakat di ranting desacenderung apatis, mereka mendukung adanya IPM ranting desa namun tidak antusias dalam kegiatan-kegiatan dalam IPM ini.
Seharusnya masyarakat harus bangga dengan masih bertahannya ranting IPM desa ini dan antusias dalam kegiatan-kegiatan yang telah tersusun dalam program kerja ranting IPM ini.

B.     Penelitian yang Relevan
Penelitian mengenai aktivitas keagamaan telah banyak dilakukan, namun masih jarang penelitian yang membahas tentang aktivitas keagamaan dalam IPM yang dilakukan oleh remaja. Oleh karena itu, penelitian ini menitikberatkan pada aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh organisasi IPM. Bahasan yang berkenaan dengan tema yang diangkat sangat jarang, sehingga penulis mengambil penelitian yang bersifat lokal.
Beberapa hanya yang relevan dengan  penelitian ini, antara lain ialah buku yang berjudul Peran Serta Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul Dalam Era Pembangunan, yang disusun pada tahun 1989 oleh PDM Bantul. Dalam pembahasannya buku ini memaparkan sejarah berdirinya, pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah Bantul serta beberapa amal usaha yang dijalankannya. Meskipun kapasitas buku ini hanya informasi, tetapi mampu menguak perjalanan Muhammadiyah dari tahun 1921 sampai 1989.
Penelitian serupa tetapi mengambil kajian berbeda dilakukan Oleh Yudia Wahyudi (SPI-’95) dengan judul Skripsi Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul 1965-1999 (Kajian Terhadap Amal Usahanya). Skripsi ini lebih mendalam mengkaji amal usaha Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul dari awal pertumbuhan sampai perkembangan organisasi hingga tahun 1999. Dalam pembahasan skripsi ini dijelaskan adanya peran serta organisasi otonom dalam perkembangan amal usaha Muhammadiyah namun masih bersifat umum, untuk itu  IRM akan dijadikan bahan penelitian skripsi selanjutnya.
Adapun tulisan Agung Danarto Ketua PP IRM periode 1990-1993 yang berjudul Mozaik perjalanan IPM  dari Masa ke Masa, merupakan laporan umum pertumbuhan dan perkembangan IPM dari periode ke periode dengan mengambil aspek dinamika organisasi, serta bukan merupakan sebuah karya ilmiah.

BAB III
METODE PENELITIAN
  1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualititif memiliki kegunaan antara lain untuk memahami interaksi sosial dan memahami perasaan orang yang sulit untuk dimengerti (Sugiyono, 2011). Pada penelitian ini, akan menyajikan suatu rangkaian penelitian yang terfokus pada respon dari dampak keadaan IPM Ranting Desa terhadap masyarakat desa wonorejo, terutama pada kalangan remaja dan pelajarnya.
Subjek dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisi data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila dalam melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya pengumpulan data dilakukan sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik peengumpulan data dan berbagai sumber data. (Sugiyono, 2011:330)
Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomene/gejala. Penelitian kualitatif bertitik tolak dari paradigma fenomenologis yang objektivitasnya dibangun atas nama situasi tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok sosial tertentu dan relevan dengan tujuan dari penelitian.
  1. Tehnik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara (Sugiyono, 2011). Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data akan dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), Metode yang akan diterapkan dalam mengumpulkan data antara lain sebagai berikut.
1.         Observasi (pengamatan)
Terdapat beberapa macam observasi yang dapat dilakukan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, akan menggunakan salah satu metode observasi yaitu observasi tidak berstruktur. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati, dan dalam melakukan pengamatan, peneliti tidak menggunakan instrument baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan (Sugiyono, 2011).
2.         Interview (wawancara)
Menurut Estenberg, wawancara merupakan pertemuan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2011). Seperti halnya observasi, wawancara juga memiliki beberapa macam jenis. Wawancara yang akan dilakukan adalah wawancara semiterstruktur, yang merupakan jenis wawancara in-depth interview. Hal ini dikarenakan, wawancara ini bertujuan untuk menemukan masalah secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara dimintai pendapat, dan ide-idenya (Sugiyono, 2011).


BAB IV
KESIMPULAN

            Bahwa keberadaan IPM Ranting Desa Wonorejo ini sangat membantu masyarakat untuk mengtrol kegiatan para remaja dan pelajar kedalam kegiatan yang positif, terutama yang bermanfaat dan berproduktif.
            Seharusnya keberadaan IPM Ranting Desa Wonorejo dimanfaatkan dengan maksimal oleh para remaja dan pelajar untuk semangat mencari pengalaman dan ilmu yang dapat digali dalam organisasi ini, pimpinan daerah IPM lebih memperhatikan keistimewaan ranting dalam ranah kerja di desa.


DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono.2011.Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).Bandung:Alfabeta.
AD-ART Pimpinan Pusat periode 2010/ 2012


1 komentar:

  1. Las Vegas - Casino & Hotel Map - JetBlue - JetBlue
    The Mirage Hotel and Casino is a luxury 과천 출장샵 resort located just 통영 출장안마 off the 경산 출장샵 Las Vegas Strip 하남 출장마사지 in 양산 출장마사지 Paradise, Nevada, United States.

    BalasHapus