PROFESIONALITAS GURU DITINJAU DARI ASPEK MOTIVASI
DAN STATUS AKADEMIK
Di susun
oleh :
Choriah
Hanayati
A210140137
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, guru
merupakan titik sentral dalam pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan,
dengan kata lain salah satu persyaratan penting bagi peningkatan mutu
pendidikan adalah apabila pelaksanaan proses belajar mengajar dilakukan oleh
pendidik-pendidik yang dapat diandalkan keprofesionalannya. Agus F. Tamyong
dalam Usman (2010: 15)menyatakan guru professional adalah orang yang memiliki
kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan
tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat
minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang professional.
Undang-undang guru dan dosen No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa professional
adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Seorang
profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan
kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya.
Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan
bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang
profesional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui
pendidikan dan pelatihan (Tilaar, 2002: 86).
Sedangkan
Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh
program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah
negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, Oemar
2006:27).
Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan,
profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan
tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan
profesional.
Menjadi
seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian
orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah
cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai guru yang memiliki pekerjaan
profesional, karena guru yang profesional, mereka harus memiliki berbagai
keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru,
dan lain sebagainya. M. Pidarta (1980:45) sambil
mengutip pendapat Edgar H. Schien mengemukakan kriteria profesi sebagai
berikut:
1. harus bekerja full-time di bidang
profesinya,
2. memiliki motivasi yang kuat untuk
bekerja dalam bidangnya,
3. memiliki pengetahuan khusus dan
keterampilan yang diperolehnya dalam pendidikan yang cukup lama,
4. membuat keputusan-keputusan dalam
tindakannya dengan bekerja tanpa pamrih,
5. harus berorientasi pelayanan kepada
klien, dan yang ia pentingkan adalah bagaimana dapat melayani siswa dengan
sebaik-baiknya demi kemajuan siswa itu sendiri,
6. memiliki pengetahuan yang spesifik.
Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar
dalam bukunya mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan
persyaratan khusus, yakni :
1. menuntut adanya keterampilan
berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2. menekankan pada suatu keahlian dalam
bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3. menuntut adanya tingkat pendidikan
yang memadai,
4. adanya kepekaan terhadap dampak
kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5. memungkinkan perkembangan sejalan
dengan dinamika kehidupan (Kunandar, 2007: 47).
Kajian
pendahuluan di sekolah memperlihatkan bahwa diantara sekian faktor-faktor di
atas, yang masih menjadi masalah adalah motivasi mengajar dan status akademik.
Masalah-masalah tersebut di peroleh dari hasil kuisioner kepada 25 guru,
memperlihatkan urutan faktor-faktor yang paling menjadi masalah sampai faktor
yang kurang menjadi masalah bagi guru, yakni (1) Motivasi kerja (2) Status
akademik (3) Kurang memahami kompetensi (4) hubungan antar guru (5) pengawasan.
Faktor-faktor
keprofesionalan guru
|
Frequensi
(orang)
|
Persentase (%)
|
Motivasi kerja
|
10 orang
|
40%
|
Status akademik
|
8 orang
|
32%
|
Kurang memahami kompetensi
|
3 orang
|
12%
|
Hubungan antar guru
|
3 orang
|
12%
|
Pengawasan
|
1 orang
|
4%
|
|
25 orang
|
100%
|
Pertama, motivasikerja guru. Beberapa masalah
motivasi kerja guru di sekolah terutama diindikasikan oleh hal-hal berikut:Menurut Balai Pengembangan
Produktivitas Daerah disebutkan bahwa ada enam faktor utama yang menentukan
keberhasilan pendidikan, yaitu sikap kerja, tingkat keterampilan, hubungan
tenaga kerja dengan pimpinan, manajemen pengelolaan, efisiensi tenaga kerja,
dan kesungguhan.Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Sedarmayanti bahwa
untuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan
tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan, keduanya tidak dapat menghasilkan
keluaran yang tinggi.
Kedua, status akademik. Masalah-masalah yang terkait
dengan status akademik diantaranya adalah : terkait dengan kualitas guru yang
telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya kualitas seorang
guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun sudah
bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan sebelum
mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi dengan yang
belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi guru dinilai
kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini mencerminkan kurangnya
rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan juga menunjukkan kurangnya
profesionalitas guru. Latar belakang pendidikan
seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas
atau pekerjaan. Sesuai denganpendapat Manullang (1994: 59), bahwa “Dalam menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam
suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan,
sehingga the right man on the right place akan lebihmendekati sasaran.
Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme
guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan
membawa kepada buruknya profesionalitas mereka. Berikut ini alasan-alasan
penting yang menunjukkan bagaimana peran motivasi kerja guru dan status
akademik terhadap profesionalitas guru.
Pertama,
motivasi kerja guru. Luthans (2008: 158) menemukan bahwa “Motivation is a process that starts with a physiological or
psychological deficiency or need that activates a behavior or a drive that is
aimed at a goal or incentive”. Guru yang memiliki motivasi tinggi akan
memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah sebagai tantangan. Ia akan
berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan itu. Dengan adanya
perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan motivasi para guru
untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga menumbuhkan komitmen
dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung jawab demi kemajuan
organisasi. Hal ini seperti yang diungkap oleh Santoso (2013: 1) yang
menyatakan bahwa guru bersertifikasi mau menerima uang tunjangan sertifikasi,
tetapi enggan meningkatkan kualitas profesionalismenya. Banyak guru yang jam
terbangnya sudah kadaluarsa, namun metode mengajarnya masih konvensional.
Pembelajaran masih berpusat pada guru, tidak terjadi interaksi multiarah.
Sehingga sama sekali tidak mencerminkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan
menyenangkan. Sedangkan masalah gairah mengajar terkait erat dengan menurunya
motivasi mengajar yang disebabkan oleh banyak alasan. Mengajar dianggap sebagai
tugas rutin dan keseharian, bukan sebagai tugas professional. Sehingga guru kurang
termotivasi untuk melkukan berbagai pembaharuan. Akibatnya kreatifitas dan
inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran sering mandeg.
Kedua,
status akademik. Ahmad Gazali (2012: 26)status akademik merupakan salah satu tolak
ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi status
akademik seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat
profesionalismenya, karena status akademik akan menentukan kepribadian
seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor
inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad
Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan
keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia
sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya,
sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan
banyak masalah dalam pembelajaran. Status
akademik juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal
ini dikarenakan status akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya
kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30)
“Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru
terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan
tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip
pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan,
yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang
setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3)
Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Penjelasan-penjelasan
di atas telah memperlihatkan bagaimana pentingnya faktor motivasi kerja gurudan
status akademik terhadap profesionalitas guru. Baik secara teoritis dan empiris
menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara motivasi kerja gurudan status
akademik dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila motivasi kerja
gurudan status akademik diperhatikan dengan baik oleh pimpinan sekolah akan mendorong
tingginya profesionalitas guru.
Alasan-alasan
logis tersebut menjadi dasar yang kuat bagi peneliti untuk mengkaji
hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.
Dengan
adanya syarat sebagai guru yang profesional seperti, dalam menghadapi masalah
selalu dapat mencari alternatif pemecahan masalah, dapat menggeneralisasi
berbagai alternatif dalam memecahkan masalah, punya kepedulian kepada siswa dan
teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu
siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan mempunyai kemampuan untuk
mengembangkan dirinya secara terus menerus, diharapkan dapat meningkatkan 35%
profesionalitas guru di sekolah.
Namun
demikian, masih kurangnya motivasi guru dan masih adanya guru yang tingkat
pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan kurangnya tingkat
profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu Tenaga Kependudukan
Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional, kompetensi guru
profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi kompetensi guru
tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan tidak memenuhi
kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi guru dimasuki
oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga (www.tempointeraktif.com:
05/01/2006).”
Faktor
yang mengakibatkan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru yakni
kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri, diantaranya rendahnya
tingkat kompetensi profesionalisme mereka. Penguasaan guru terhadap materi dan
metode pengajaran masih berada di bawah standar (Syah, 1988).
Berdasarkan
paparan di atas dapat dimaknai “bahwa telah terjadi kesenjangan profesionalisme
guru di sekolah”. Hal ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlarut-larut
sehingga akan menurunya tingkat prestasi siswa, dan dapat berdamapk pada
munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar
(2007:46-47), Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan
kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.
Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang
dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata
lain, dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang
memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang
profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki
pengalaman yang kaya di bidangnya.
Bertolak
dari dasar teori di atas, dalam penelitian ini sebagai faktor penduga
penciptaan profesionalitas guru, sengaja dipilih faktor pengalaman mengajar dan
latar belakang pendidikan, dengan berbagai alasan yang cukup mendasar.
Pertama,
motivasi kerja guru. Menurut Robbins (2007: 166), motivasi adalah kesediaan
untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang
dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan
individual. Motivasi kerja seorang guru adalah keadaan yang membuat guru
mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui
pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru akan memberikan kekuatan
untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga seorang guru mengetahui adanya
tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya.
Kedua,
status akademik. Ahmad Gazali (2012:
26)Status akademik merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan
profesional atau tidak, semakin tinggi status akademik seorang guru maka
diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena status
akademik akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola
pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi
profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat
bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat
teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar
pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam
pembelajaran. Status akademik juga dapat
dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan status
akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang
dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan
profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar
belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar,
mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan
lain-lain.” Sudarwan Darwin (2002: 34), juga
mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga
kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya
S1 atau yang setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang
setara,(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Bertolak dari paparan di atas, peneliti tertarik
untuk mengangkat permasalahan tersebut dalam judul penelitian : “Profesionalitas Guru dalam aspek Motivasi
kerja guru dan Status akademik”.
B. Identifikasi
Masalah
Relevan dengan
latar belakang tersebut, maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah
sebagai berikut:
1. Kajian-kajian
teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalitas guru di
pengaruhi oleh masalah-masalah: motivasi kerja, status akademik, kurang
memahami kompetensi, hubungan antar guru, dan pengawasan.
2. Motivasi
kerja guru dan status akademik terpilih sebagai faktor yang mempengaruhi
profesionalitas guru, karena memilikki masalah urgen sebagai berikut:
a. Banyaknya
guru yang kurang termotivasi dalam bekerja menjadi tenaga kependidikan, masih
menjadi masalah dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang
kesulitan dalam mengelola kelas, kurang berinovasi dan monoton dalampenggunaan
metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih
kurang.
b. Pentingnya
status akademik seorang guru untuk penjadi guru yang berkompeten dalam
meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan
permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau
S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalitas guru dalam
meningkatkan mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang
perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa
sekolah masih ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting
memenuhi jam mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya
itu bisa ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran
belum baik, dan profesionalitas guru masih kurang.
3. Rendahnya
profesionalitas guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak terteliti.
C. Batasan
dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat
dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih
sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya motivasi
kerja guru dan status akademik guru saja yang terpilih menjadi faktor yang
mempengaruhi profesionalitas guru. Untuk memperjelas hal tersebut,
variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi sebagai
berikut:
1. pengaruh
motivasi kerja guru secara parsial (mandiri) terhadap profesionalitas guru
2. pengaruh
status akademik secara parsial (mandiri) terhadap profesionalitas guru
3. pengaruh
motivasi kerja guru dan status akademik secara simultan (bersama) terhadapa
profesionalitas guru.
Sesuai dengan
hubungan yang telah dibatasi tersebut, maka rumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. apakah
motivasi kerja guru berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas guru?
2. apakah
status akademik berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas guru?
3. apakah
motivasi kerja guru dan status akademik berpengaruh terhadap tingkat
profesionalitas guru?
D. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
Tujuan
penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni;
1. menguji
pengaruh motivasi kerja guru terhadap profesionalitas guru
2. menguji
pengaruh status akademik terhadap profesionalitas guru
3. menguji
pengaruh motivasi kerja guru dan status akaademik terhadap profesionalitas guru.
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut;
1. membuktikan
wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya
manusia
2. kontribusi
dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai
tempat penelitian dilakukan
3. referensi
bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Kajian
Pustaka
1. Motivasi
kerja guru
Robbins (2007: 166) motivasi
adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan
organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa
kebutuhan individual. Motivasi kerja seorang guru adalah keadaan yang membuat
guru mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui
pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru akan memberikan kekuatan
untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga seorang guru mengetahui adanya
tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya.
Sedangkan yang dikemukakan oleh Luthans (2008: 158) Guru yang memiliki motivasi tinggi akan
memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah sebagai tantangan. Ia akan
berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan itu. Dengan adanya
perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan motivasi para guru
untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga menumbuhkan komitmen
dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung jawab demi kemajuan
organisasi. Robbins (dalam Priansa, 2014: 201)
mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menunjukkan intensitas
individu, arah, dan ketekunan dari upaya menuju pencapaian tujuan. Menurut Danim
(2012: 23)
Motivasi dapat diartikan
sebagai setiap daya gerak atau daya dorong yang muncul pada diri individu untuk
secara sadar mengabdikan diri bagi pencapaian tujuan organisasi. Motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang
yang menggerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam
dirinya. Oleh karena itu, perbuatan sesorang yang didasarkan atas motivasi
tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya (Uno, 2012: 1). Motivasi juga
dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau
melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai
tujuan. Motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang
mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan
sebelumnya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai pendorong
mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.
Motivasi dapat juga diartikan sebagai proses untuk mencoba memengaruhi orang
atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan pekerjaan yang diinginkan
sesuai dengan tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu.
2. Status akademik
Menurut pendapat Manullang
(1994: 59) bahwa “Dalam menyeleksi dan
menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan
calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan
lebihmendekati sasaran. Sedangkan menurutSudarwan Darwin (2002:
34) bahwa juga mengutip pendapat Semiawan
yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga
semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra
profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”. menurut Hamdani (2006), “Dalam hal status akademik seorang guru,
maksudnya guru harus memiliki latar belakang ilmu keguruan dan ilmu
kependidikan. Ini artinya guru dengan status akademik non kependidikan atau non
keguruan tidak dapat disebut memiliki standar kompetensi guru”,
(http.freelist.org/aechives/PPC/02-2006/msg004.html)
3. Profesionalitas
guru
Jarvis dalam Sagala
(2006: 198) professional dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan tugas
profesi juga sebagai ahli (expert)
apabila dia secara spesifik memperolehnya dari belajar. Sedangkan Tilar (2002:
28) mengemukakan bahwa seorang professional menjalankan pekerjaannya sesuai
dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap
sesuai dengan tuntutan profesinya.
Seorang professional
menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalitas, dan bukan secara matiran.
Profesionalitas bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesionalitas akan
terus menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan
pelatihan. Sedangkan menurut Agus F. Tamyong dalam Usman (2010: 15) menyatakan
guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus
dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai
guru dengan kemampuan maksimal
Hakikat guru
professional adalah guru yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi para
siswanya dengan kemampuan khusus yang dimilikinya, sehingga siswa dapat
menerima dan memahami penyampaian materi yang diberikan. Seorang guru tidak
hanya dituntut untuk memiliki kemampuan teknis edukatif dalam melaksanakan
tugasnya, tetapi juga harus memiliki karkter yang dapat diandalkan sehingga
dapat menjadi panutan bagi siswa, keluarga, dan masyarakat. Pembinaan karakter
professional guru mendorong pengembangan profesi guru secara terus menerus dan
berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan pengajaran masing-masing guru. Menurut
Yamin dan Maisah (2010: 28) guru professional adalah guru yang mengedepankan
mutu dan kualitas layanan dan produknya, layanan guru harus memenuhi
standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa, dan pengguna serta memaksimalkan
kemampuan peserta didik berdasarkan potensi dan kecakapan yang dimiliki
masing-masing individu.
B. Penelitian
Yang Relevan
1. Penelitian
yang dilakukan oleh Mas Ayu Fadilah (2007) diperoleh
hasil bahwa: Guru merupakan pekerjaan professional, suatu profesi yang menuntut
keahlian tertentu yang karena sifatnya membutuhkan persyaratan dasar,
keterampilan teknis dan sikap kepribadian, oleh sebab itu guru harus memiliki
kualifikasi professional sehingga mampu mengemban tugas dengan baik dan
professional, oleh karena itu sekolah harus melihat kualitas guru, kinerja guru
yang tinggi dilandasi dengan adanya kedisiplinan sarana dan fasilitas yang
mendukung, penguasaan bidang studi, pemahaman peserta didik penerapan
pembelajaran yang mendidik, dan pengembangan kepribandian dan keprofesionalan.
Hal inilah yang menyangkut dalam pengembangan profesionalitas guru. Masalah
dalam penelitian ini adalah faktor waktu dan tenaga kedisiplinan guru,
mengikuti pelatihan dan seminar, faktor keahlian, tanggung jawab guru kepada
peserta didik, saran ada fasilitas mengajar yang disediakan sekolah, serta
kerja sama antar teman sejawat. Hal yang sama pula diperoleh dari penelitian
iini yang mengatakan semakin sering guru pendidikan maupun pelatiha maka akan menambah kemampuan guru dalam
menguasai bidang studi sarta mampu dalam penerapannya.
2. Penelitian
yang dilakukan oleh Mas Ayu Falidalah (2007) diperoleh hasil bahwa: Pelatihan/
pendidikan yang perlu disiapkan untuk para guru bukanlah pendidikan tentang
konsep-konsep mendidik, tetapi yang
lebih utama adalah pendidikan ilmu murni. Oleh karenanya kerjasama dengan
universitas perlu dikembangkan untuk membuat sebuah link peng-update-an keilmuan
guru. Selain memberikan peluang belajar da berkembang kepada guru di daerah,
pemerintah daerah juga perlu mempelopori forum ilmiah guru. Forum yang akan
memberikan kesempatan kepada guru-guru daerah untuk saling bertukar metode
mengajar, keilmuan baru dan sekaligus melatih guru untuk menyampaikan idenya
secara ilmiah. Dalam forum ilmiah ini, sangat perlu pula mengundang paka/
ilmuan/ praktisi untuk menambah keluasan keilmuan para guru. Hal yang sama pula
diperoleh dari penelitian ini yang mengatakan semakin sering guru mengikuti
pendidikan maupun pelatihan maka akan menambah kemampuan guru didalam
penguasaan pada bidang studinya serta mampu dalam penerapannya.
3. Penelitian
yang dilakukan oleh Rachman Halim Yustiyawan (2014)yang berjudul Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Professional
Guru yang Bersertifikasi terhadap Kinerja Guru, diperoleh hasil bahwa bagi
guru-guru untuk lebih meningkatkan motivasi dalam bekerja dan terus menggali
kompetensi professional yang dimiliki yang dapat menunjang peningkatan kinerja
dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional, karena mengingat dari
hasil penelitian ini motivasi dan kompetensi professional cenderung memiliki
pengaruh terhadap kinerja guru. Bagi
kepala sekolah diharapkan lebih memperhatikan serta selalu berupaya untuk
meningkatkan serta selalu berupaya untuk meningkatkan motivasi dan kompetensi
professional seorang guru.
4. Penelitian
yang dilakukan oleh Usep Setia Laksana yang berjudul Hubungan Pelatihan, Pendidikan, dan Pengalaman mengajar tehadap
Profesionalitas Guru tahun 2009, bahwa “terdapat hubungan positif antara
pendidikan, pelatihan dan pengalaman mengajar terhadap profesionalitas guru
bagi seorang guru adalah pendidikan pelatihan, pendidikan, dan pengalaman
mengajar. Oleh karena itu guru profesional adalah orang yang memiliki kemempuan
dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain guru profesional
adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman
yang kaya di bidangnya. Sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
maka guru-guru perlu pengembangan dan peningkatan ketrampilan melalui berbagai
pelatihan. Hal ini juga akan mendukung penerapan kemampuan yang diperolah dari
pendidikan formal, karena pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan salah
satu fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang harus dilaksankan.
Dengan pendidikan dan pelatihan guru berarti memberikan kesempatan pada guru
untuk meningktkan kualitas kerjanya”.
C. Kerangka
Konseptual
1. Hubungan
motivasi kerja guru dengan profesionalitas guru.
Hubunga-hubungan motivasi kerja guru
dengan profesionalitas guru dalam penelitian ini diperlihatkan melalui
teori-teori dn hasil penelitian sebelumnya antara lain :
Menurut
Balai Pengembangan Produktivitas Daerah disebutkan bahwa ada enam faktor utama
yang menentukan keberhasilan pendidikan, yaitu sikap kerja, tingkat
keterampilan, hubungan tenaga kerja dengan pimpinan, manajemen pengelolaan,
efisiensi tenaga kerja, dan kesungguhan.Hal ini senada dengan yang dikemukakan
oleh Sedarmayanti bahwa untuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan
dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan, keduanya
tidak dapat menghasilkan keluaran yang tinggi. Luthans (2008: 158) menemukan
bahwa “Motivation is a process that
starts with a physiological or psychological deficiency or need that activates
a behavior or a drive that is aimed at a goal or incentive”. Guru yang
memiliki motivasi tinggi akan memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah
sebagai tantangan. Ia akan berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan
itu. Dengan adanya perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan
motivasi para guru untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga
menumbuhkan komitmen dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung
jawab demi kemajuan organisasi.Hal ini seperti yang diungkap oleh Santoso
(2013: 1) yang menyatakan bahwa guru bersertifikasi mau menerima uang tunjangan
sertifikasi, tetapi enggan meningkatkan kualitas profesionalitasnya. Banyak
guru yang jam terbangnya sudah kadaluarsa, namun metode mengajarnya masih
konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada guru, tidak terjadi interaksi
multiarah. Sehingga sama sekali tidak mencerminkan pembelajaran yang aktif,
kreatif dan menyenangkan. Sedangkan masalah gairah mengajar terkait erat dengan
menurunya motivasi mengajar yang disebabkan oleh banyak alasan. Mengajar
dianggap sebagai tugas rutin dan keseharian, bukan sebagai tugas professional.
Sehingga guru kurang termotivasi untuk melkukan berbagai pembaharuan. Akibatnya
kreatifitas dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran sering mandeg.Menurut Robbins
(2007: 166), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang
tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam
memenuhi beberapa kebutuhan individual. Motivasi kerja seorang guru adalah
keadaan yang membuat guru mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai
tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru
akan memberikan kekuatan untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga
seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi
dengan tujuan pribadinya.
Teori di atas memperlihatkan bahwa
motivasi berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru, yakni apabila
program motivasi kerja guru baik maka profesionalitas yang dimiliki guru akan
tinggi, demikian sebaliknya.
2. Hubungan
status akademik dengan profesionalisme guru
Hubungan-hubungan status akademik dengan
profesionalitas guru dalam penelitian ini diperlihatkan melalui teori-teori
antara lain:
Pendapat Manullang
(1994: 59),bahwa “Dalam menyeleksi dan
menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan
calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan
lebihmendekati sasaran. Ahmad
Gazali (2012: 26) status akademik merupakan salah satu tolak ukur guru
dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi status akademik seorang
guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalitasnya, karena status
akademik akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola
pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi
profesionalitas mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat
bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat
teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar
pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam
pembelajaran. Status akademik juga dapat
dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan status
akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang
dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan
profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar
belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar,
mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan
lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang
mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga
semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra
profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Teori di atas memperlihatkan bahwa
status akademik berpengaruh positif terhadap profesionlisme guru, yakni apabila
persyaratan status akademik ditegakkan maka profesionalitas guru akan
meningkat, demikian sebaliknya.
Mengingat profesionalitas guru
dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, maka dalam penelitian ini kedua
hubungan tersebut akan diteliti baik secara parsial
maupun simultan, dengan paradigm sebagai berikut:
|
Pengaruh motivasi kerja guru dan status
akademik terhadap profesionalitas guru
Keterangan:
X1 = motivasi guru
X2 = status akademik
Y = profesionalitas guru
|
1. garis
pengaruh motivasi guru terhadap profesionalitas guru (hubungan parcial)
2. garis
status akademik terhadap profesionalitas guru (hubungan parcial)
3. garis
pengaruh antara motivasi kerja guru dan status akademik terhadap
profesionalitas guru
|
D. HIPOTESIS
Mengingat
adanya tiga hubungan seperti diatas, pada kerangka konseptual maka hipotesis
dalam penelitian ini juga terdapat tiga poin, diantaranya:
·
Hipotesis pertama: motivasi guru berpengaruh
positif terhadap profesionalitas guru
·
Hipotesis kedua: status akademik berpengaruh
positif terhadap profesionalitas guru
·
Hipotesis ketiga: motivasi guru dan
status akademik berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Definisi
Operasional
1. Varibel
Independen (bebas)
a. Motivasi
(X1): motivasi erat
hubungannya dengan perilaku
dan kinerja atau prestasi
kerja (Uno, 2008:67)
Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi kerja guru menurut Roth et al (2007) yaitu:
1) Motivasi
ekstrinsik yang meliputi:
a) Penghargaan atas
usaha dan prestasi guru
b) Kepuasan
terhadap cara mengajar
c) Pengamatan Kepala
Sekolah terhadap pekerjaan guru
2) Motivasi
intrinsik yang meliputi:
a) Cara
mengajar yang menyenangkan
b) Hubungan dengan
orang tua siswa yang harmonis
c) Hubungan dengan
siswa yang harmonis
b. Status
akademik (X2): Latar belakang pendidikan
seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas
atau pekerjaanpeluang untuk menjadi guru yang berkualitas tidak hanya
dengan motivasi melainkan ilmu bagaimana cara untuk mentrasfer ilmu dengan
efekti, efisien, dan inovatif yang bisa di dapat dengan bersekolah sampai
jenjang perguruan tinggi. Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat
Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
1) tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
2) tenaga
semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
3) tenaga
Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
2. Variable
Dependen (terikat):
Profrsionalisme
guru (Y): profesionalitas merupakan sikap mental yang senantiasa mendorong
untuk mewujudkan diri, sebaga seorang yang bertanggungjawab pada profesinya,
kualitas profesionalitas ditunjukkan oleh lima unjuk kerja sebagai berikut:
a) Keinginan
untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekti standar ideal
b) Meningkatkan
dan memelihara citra profesi
c) Keinginan
untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan professional yang dapat
meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilan
d) Mengejar
kualitas dan cita-cita dalam profesi
e) Memiliki
pengambangan terhadap profesinya. (diadaptasi dari H. Mohammad Surya)
Profesionalitas
guru dalam penelitian ini didefinisikan sebagai seperangkat fungsi dan tugas
dalam pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melaluipendidikan dan
latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu mengembangkankekaryaannya itu
secara ilmiah disamping mampu menekuni bidang profesinya ituselama
hidupnya.Guru dapat dikatakan profesional jika memenuhi
kompetensi-kompetensiguru. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru, yaitu:
a) Kompetensi
pedagogic
b) Kompetensi
kepribadian
c) Kompetensi
social
d) Kompetensi
profesional
B. Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
mengambil lokasi di sekolah SMA Negri Nusabakti, Sukoharjo. Penelitian akan
direncanakan akan berlangsung dari bulan Agustus sampai dengan November 2016
(rencana penelitian dapat dilihat pada lampiran) pemilihan sekolah SMA Negri Nusabakti
sebagai objek penelitian didasarkan pada alasan dalam sekolah yang akan
diteliti ini terlihat banyak siswa yang berada di luar ruangan, beberapa guru
yang terlihat keluar masuk sekolahan dan banyak yang berada di dalam kantor
guru, membuat peneliti tertarik dengan sekolah ini karena cocok untuk dijadikan
objek penelitian.
C. Populasi
dan Sampel
Sugiyono (2011:8)
pendekatan penelitian kuantitatif
ini digunakan untuk meneliti pada
populasi, atau sampel tertentu yang
representatif. Proses penelitian ini
bersifat deduktif, dimana untuk
menjawab rumusan masalah digunakan konsep
atau teori sehingga
dapat dirumuskan hipotesis.
Pengumpulan data dalam
penelitian menggunakan
instrumen penelitian dengan
tujuan untuk menguji hipotesis
yang telah ditetapkan. Data yang telah terkumpul selanjutnya
dianalisis menggunakan statistik inferensial sehingga dapat
disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak.
Dalam penelitian
ini menggunakan rumusan masalah asosiatif
dengan hubungan kausal.
Menurut Sugiyono (2011:36-37) rumusan masalah asosiatif adalah suatu rumusan
masalah penelitian yang
bersifat menanyakan hubungan antara
dua variabel atau
lebih. Hubungan kausal adalah
hubungan yang bersifat
sebab akibat, yang terdapat
variabel independen (X),
yakni variabel yang mempengaruhi, dan variabel dependen (Y). yaitu
variabel yang dipengaruhi. Penelitian ini digunakan untuk mencari
hubungan sebab akibat
antara variabel independen dan
variabel dependen.
Rancangan penelitian
ini terdiri dari
dua variabel independen (X)
dan satu variabel
dependen (Y). Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh variabel
X1 dengan Y,
yakni motivasi guru terhadap
progesionalisme guru, dan mencari pengaruh X2 dengan Y, yakni
pengaruh status akademik guru terhadap
profesionalitas guru. Serta pengaruh
X1 dan X2 terhadap
Y, yakni pengaruh
motivasi dan status akademik guru
secara bersama-sama terhadap profesionalitas guru. Subjek penelitianyang
digunakan dalam penelitian Profesionalitas guru ditinjau dari aspek Motivasi dan status
akademik di SMA Negeri Nusabakti yakni
ialah seluruh di SMA Negeri
Nusabakti, secara keseluruhan guru
di SMA Negeri
Nusabakti berjumlah 46 guru.
D. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan
data menggunakan angket atau kuisioner, observasi, dan
dokumentasi.Uji validitas dan Uji realibilitas intrumen pada penelitian ini
dilakukan dengan menyebar angket
atau instrumen kepada
30 responden. Responden yang
digunakan dalam uji validitas
dan realibilitas instrumen
penelitian ini adalah guru SMA Negeri Nusabakti. Instrumen penelitian
ini diuji cobakan dengan mengacu
kepada kisi-kisi instrumen penelitian yang terdiri dari penjabaran
indikator-indikator setiap variable:
1. Motivasi
guru
Indikator
motivasi guru merupakan rangkaian pemberian dorongan kepada seseorang untuk
melakukan tindakan pencapaian tujuan yang meliputi keterlibatan terhadap kerja/
profesi keinginan mobilitas ke atas, pandangan ke dalam karier, maupun
mengambil resiko, kemauan untuk bersaing (Siagian, 1982). Jumlah butir
instrument sebanyak 7 buah yang disusun dalam skala rating (rating scale), sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3,
4).
2. Status
akademik
Latar
belakang pendidikan guru dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Guru menjelaskan bahwa guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang
sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat
(D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Pada
umumnya belum semua guru berpendidikan D-IV atau S1. Beberapa ada yang masih
D3, D2, D1, PGSLP, PGSMTP, bahkan SMA. Selain itu saat ini mulai ada beberapa
guru yang melanjutkan jenjang studi ke S2 dalam rangka aktualisasi diri.
Pendidikan guru juga dapat ditempuh melalui pendidikan non formal seperti
kursus yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap
pendidikan formal. Jumlah butir instrument sebanyak 4 buah yang disusun dalam
skala rating (rating scale),
sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3, 4).
3. Profesionalitas
guru
Instrument
profesionalitas guru, masa kerja mengajarnya guru diharapkan memilikisemakin
banyak pengalaman. Pengalaman-pengalaman ini erat kaitannya denganpeningkatan
profesionalitas pekerjaan (Dedi Supriadi, 1999: 21). Jumlah butir instrument
sebanyak 15 buah yang disusun dalam skala rating (rating scale)sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3,
4).
Untuk
menguji ketepatan instrument (validitas) dan kelayakan instrument
(reliabilitas). Pengujian validitas dan reliabilitas ini dilakukan sebelum
penelitian sesungguhnya, yakni dengan mengujicobakan instrument yang telah
disusun kepada responden uji coba sebanyak 25 orang.
Pengujian
lengkapi dengan uji validitas dan reabilitas menggunakan cara-cara berikut :
1. Validitas
a. Validitas
isi: pengujian isi angket dengan analisis rasional, kesesuaian dengan teori,
dan pertimbangan ahli. Butir-butir instrument didiskusikan agar benar-benar
mencerminkan variable yang diukur. Pengujian validitas isi ini tidak
menggunakan teknik statistik.
b. Validasi
konstruk: pengujian konstruk angket/instrument dengan mengkorelasikan
nilai-nilai setiap butir instrument dengan nilai totalnya dengan mneggunakan
teknik statistic korelaisi, melalui bantuan program pengolah data SPSS.
2. Reliabilitas
Pengujian
relibilitas menggunakan pendekatan konsisten internal, yaitu teknik belah dua
(split half) dengan memilah butir instrument bernomor ganjil dan butir
instrument bernomor genap, kemudian mengkorelasinya yang dilanjutkan dengan
analisis Spearman Brown. Pengolahan datanya menggunakan bantuan program
pengolah data SPSS.15
E. Teknik
Analisis Data
Pilihan analisis statistik dalam
penelitian didasarkan pada:
1. Tujuan
penelitian bersifat:
a. Uji
prediktif antar variabel, digunakan Regresi
b. Uji
komparasi antar variabel, digunakan Anava
2. Jenis
pengukuran variabel:
a. Variabel
nominal, ordinal, interval, atau rasional
b. Banyaknya
variabel yang dianalisis
Panduan analisis
statistik:
Variabel bebas
|
Variabel
terikat
|
Teknik
statistik
|
Tujuan
|
Skala
|
Jumlah
|
Skala
|
Jumlah
|
Interval
|
1
|
Interval
|
1
|
Anareg
sederhana disertai korelasi product moment
|
Mencari
pengaruh dan memprediksi
|
>1
|
|
1
|
Angket ganda
disertai korelasi ganda
|
Mencari
pengaruh dan memprediksi
|
>1
|
|
>1
|
Anareg kanonik
disertai korelasi ganda
|
Mencari
pengaruh dan memprediksi
|
Variabel bebas
|
Variabel
terikat
|
Teknik
statistik
|
Tujuan
|
Skala
|
Jumlah
|
Skala
|
Jumlah
|
Nominal
|
1
|
Interval
|
1
|
Anareg
sederhana dengan variabel Dummy
|
Mencari
pengaruh dan memprediksi
|
>1
|
1
|
Anava
faktorial
|
Membedakan Y
|
Anareg ganda
dengan variabel Dummy
|
Mencari pengaruh
dan memprediksi
|
Interval
|
>1
|
Nominal
|
>1
|
Anava
faktorial
|
Membedakan Y
|
|
1
|
1
|
· Uji-t
· Anava 1 jalan
· Uji
diskriminan
|
Membedakan Y
berdasarkan X
|
1
|
>1
|
· Anava
factorial
|
Membedakan Y
berdasarkan X
|
>1
|
1
|
· Uji
diskriminan ganda
|
Nominal
|
1
|
Nominal
|
1
|
· Chi Square
· Koefisien phi
· Koefisien
Kontingensi
|
Membedakan Y
berdasarkan X (melalui uji beda frekuensi)
|
1
|
Ordinal
|
1
|
· Koefisien Phi
· Koefisien
Kontingensi
|
>1
|
|
>1
|
· Koefisien
kontingensi
|
Dengan bertumpu pada panduan analisis di
atas, dimana:
1. Penelitian
ini bertujuan untuk menemukan ada/ tidaknya pengaruh/ kontribusi.
2. Banyaknya
variabel (variabel bebas 2 buah, dengan variabel tak bebas = 1 buah), maka
teknik analisis data yang tepet adalah regresi linier berganda dengan persamaan
sebagai berikut: Y= a + b1 X1 + b2 X2
+ 
3.
Adapun
pengolahan data untuk menguji ketiga hipotesis di atas menggunakan bantuan
program pengolah data SPSS.15
DAFTAR
PUSTAKA
Usman, M.
Uzer.2010.Menjadi GuruProfesional.Bandung:PT.
Remaja Rosda Karya.
Tilaar, H. A.
R..2002.Membenahi Pendidikan Nasional.Jakarta:PT.
Rineka Cipta.
Manullang.1994. Pedoman Praktis Pengambilan Keputusan.Yogyakarta:BPFE
www.kompas.com:27/09/2010
Luthans,Fred.2008.Organizational Behaviour.New York:McGraw-Hill
Inc, p.
Santoso,
Kurniawan Adi.02 September 2013.Guru,Jagalah Profesionlisme-mu. Malang
Post, hlm 1
Ahmad
Gazali, 14 Maret 2012.Pengaruh Latar
Belakang Pendidikan dan Pengalaman
Mengajar Terhadap Profesionalisme Guru
Smk Kompetensi Keahlian Teknik Audio-Video
Se Kota Yogyakarta.Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika UNY:Skripsi
Tidak di Terbitkan.
Ahmad
Barizi.(2009).Menjadi Guru Unggul.Yogyakarta:Ar Ruzzmedia
SudarwanDanim.(2002).Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme
Tenaga Kependidikan.Bandung:Pustaka Setia
Kunandar.2007.Guru Profesional: Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
www.tempointeraktif.com:
05/01/2006
Robbins,
S. P. & Judge, T. A..2007.Perilaku Organisasi.Alih
Bahasa oleh Diana Angelina.Jakarta:Salemba
Empat.
Uno, Hamzah B..2012.Teori Motivasi dan Pengukurannya.Jakarta:
Bumi Aksara.
Yamin dan
Maisah.2010.Standart Kinerja Guru.Jakarta:Gaung
Persada.
Yustiyawan,
R.Halim & Desi Nurhikmahyanti.3 Januari 2014. Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Profesional Guru yang Bersertifikasi
Terhadap Kinerja Guru di SMP Negeri 1 Surabaya.Manajemen Pendidikan UNNES:Jurnal Tidak di Terbitkan.
Roth,
G., Assor, A., Kanat-Maymon, Y, & Kaplan,
H. 2007.Autonomous Motivation for
Teaching:How Self-Ditermined Teaching
May Lead to Self-Determined Learning Journal
of Education Psychology.99 (4): 761-774.Sagala,Saiful.2006.Kemampuan
Profesional Guru dan Tenaga
Kependidikan.Bandung: Alfabeta
Sagala,
Saiful.2006.Kemampuan Profesional Guru
dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta
Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif
dan R & D.Bandung:Alfabeta.
Hamalik,
Oemar. 2006. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta:
PT. Bumi Aksara
Danim, Sudarwan. 2012. Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas
Kelompok. Jakarta : Rineka Cipta
(http.freelist.org/aechives/PPC/02-2006/msg004.html)
M.
Manullang. (1994). Manajemen Personalia.
Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
https://arihdyacaesar.wordpress.com/2012/01/17/pengertian-belajar/
LAMPIRAN:
Konsep,
Sub Konsep, Indikator Empirik Motivasi
Konsep
|
Sub Konsep
|
Indikator Empirik
|
Motivasi Guru
(X1)
|
Harapan terhadap aktifitas yang
dilakukan
|
1.
Saya lebih mengutamakan tugas pokok
2.
Jika tidak dapat mengajar karena sakit atau
kepentingan lain, saya berusaha memberitahukan kepada kepala sekolah dan
memberi tugas pada siswa
|
Dorongan untuk meraih kemajuan berdasarkan
standar yang telah ditentukan
|
3.
Saya harus membuat program pengajaran pada awal
kegiatan pembelajaran berupa Prota, Promes, RPP, RH
4.
Hasil karya/ ulangan siswa, sangat perlu dipajang
pada dinding kelas sebagai saran motivasi dan intropeksi siswa
|
Keinginan
untuk berbuat baik
|
5.
Dalam melaksanakan pekerjaan, saya berusaha
melakukan dengan baik serta selalu mengutamakan kualitas
6.
Dalam setiap rapat saya selalu berani mengutamakan
pendapat, ide, gagasan yang berkaitan dengan peningkatan mutu
7.
Saya sering memberikan berbagai macam evaluasi
untuk memantau kemajuan siswa baik berupa pretes, postes, ulangan harian,
tugas, PR dan lain-lain.
|
Konsep,
dan Indikator Empirik Status Akademik
Konsep
|
Indikator Empirik
|
Status
Akademik (X2)
|
1.
Jenjang pendidikan
2.
Kesesuaian pendidikan dengan penempatan
3.
Keikutsertaan
4.
Pendidikan terakhir
|
Konsep,
dan Indikator Empirik Profesionalitas Guru
Konsep
|
Indikator Empirik
|
Profesionalitas
guru (Y)
|
1.
Menguasai teori dan prinsip pembelajaran
2.
Mengembangkan kurikulum mata pelajaran
3.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
dalam pembelajaran
4.
Memfasilitasi pengembangan potensi siswa
5.
Penilaian prestasi belajar siswa
6.
Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
7.
Menjunjung tinggi kode etik profesi guru dan
menunjukkan etos kerja yang tinggi
8.
Menampilkan image
yang positif bagi peserta didik dan masyarakat
9.
Bersikap tidak diskriminatif
10.
Menguasai materi
11.
Mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif
12.
Mengembangkan profesionalitas
13.
Menguasaan standar kompetensi mata pelajaran
14.
Membuat karya ilmiah mengenai penelitian
pendidikan
15.
Membuat makalah pendidikan
|