PROFESIONALISME
GURU dalam PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR dan LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Seorang profesional menjalankan
pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki
kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional
menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran.
Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akan
terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan
pelatihan (Tilaar, 2002:86).
Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa
guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru
dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman
dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, 2006:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi
adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang
suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu
profesi dan profesional.
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang,
seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan
menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai
guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional, mereka
harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya,
menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya. Oemar Hamalik dalam bukunya Proses
Belajar Mengajar, guru profesional harus memiliki persyaratan, yang meliputi;
- Memiliki bakat sebagai guru.
- Memiliki keahlian sebagai guru.
- Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
- Memiliki mental yang sehat.
- Berbadan sehat.
- Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
- Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
- Guru adalah seorang warga negara yang baik (dalam Yamin, 2007:5-7).
Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar dalam bukunya
mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus,
yakni :
1. menuntut adanya keterampilan
berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2. menekankan pada suatu keahlian dalam
bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3. menuntut adanya tingkat pendidikan
yang memadai,
4. adanya kepekaan terhadap dampak
kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5. memungkinkan perkembangan sejalan
dengan dinamika kehidupan (Kunandar, 2007:47).
Kajian pendahuluan di sekolah memperlihatkan bahwa diantara
sekian faktor-faktor di atas, yang menjadi masalah adalah pengalaman mengajar
dan latar belakang pendidikan. Masalah-masalah tersebut diperoleh dari
observasi pada 3 sekolah di sekitar lingkungan penulis.
Pertama,
pengalaman mengajar. Beberapa masalah pengalaman mengajar di sekolah- sekolah
tersebut diindikasikan oleh hal-hal berikut
:
Secara umum, pengalaman guru di Indonesia masih kurang, hal ini sebagaimana
yang diutarakan oleh Marlock, selaku Koordinator Lapangan Forum Peduli
Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI), mengatakan bahwa
“Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang
bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran di
SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan
para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.” (www.kompas.com:
26/08/2008)
Kedua, latar belakang pendidikan. Masalah-masalah
yang terkait dengan latar belakang masalah diantaranya adalah : terkait dengan
kualitas guru yang telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya
kualitas seorang guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun
sudah bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan
sebelum mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi
dengan yang belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi
guru dinilai kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini
mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan
juga menunjukkan kurangnya profesionalisme guru.
Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme
guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan
membawa kepada buruknya profesionalisme mereka. Berikut ini alasan-alasan
penting yang menunjukkan bagaimana peran pengalaman mengajar dan latar belakang
pendidikan terhadap profesionalisme guru.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A.
Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan,
sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan
tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru
selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal
yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya,
sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang
keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru
yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar
mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi
lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia
mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar
tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi
(2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar
adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang
pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang
pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional
atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan
semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang
pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola
pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi
profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat
bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat
teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar
pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran. Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan
sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang
pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik
yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan
profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar
belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar,
mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan
lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang
mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau
yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2
kebawah.”
Penjelasan-penjelasan di atas telah memperlihatkan
bagaimana pentingnya faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan
terhadap profesionalisme guru. Baik secara teoritis dan empiris menunjukkan
bahwa adanya hubungan yang erat antara pengalaman mengajar dan latar belakang
pendidikan dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila pengalaman
mengajar dan latar belakang pendidikan diperhatikan dengan baik oleh pimpinan
sekolah akan mendorong tingginya profesionalisme guru.
Alasan-alasan logis tersebut menjadi dasar yang kuat
bagi peneliti untuk mengkaji hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.
Dengan adanya syarat sebagai guru yang profesional
seperti, dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan
masalah, dapat menggeneralisasi berbagai alternatif dalam memecahkan masalah,
punya kepedulian kepada siswa dan teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan
tenaga yang cukup untuk membantu siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan
mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus,
diharapkan dapat meningkatkan 35% profesionalisme guru di sekolah.
Namun demikian, masih kurangnya pengalaman guru dan
masih adanya guru yang tingkat pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan
kurangnya tingkat profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu
Tenaga Kependudukan Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional,
kompetensi guru profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi
kompetensi guru tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan
tidak memenuhi kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi
guru dimasuki oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga
(www.tempointeraktif.com: 05/01/2006).”
Berdasarkan paparan di atas dapat dimaknai “bahwa
telah terjadi kesenjangan profesionalisme guru di sekolah”. Hal ini tentunya
tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga akan menurunya tingkat prestasi
siswa, dan dapat berdamapk pada munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar (2007:46-47),
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan
dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru
yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk
melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan
bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah
orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang
kaya di bidangnya.
Bertolak dari dasar teori di atas, dalam penelitian
ini sebagai faktor penduga penciptaan profesionalisme guru, sengaja dipilih
faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan, dengan berbagai
alasan yang cukup mendasar.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A.
Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan
lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan
tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru
selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal
yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan
pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang
dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.”
Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan
dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal
yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia
dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh
selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar.
Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan
pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang
guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang
pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional
atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka
diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar
belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal
ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak
mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142)
berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan
seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan
berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran. Latar belakang pendidikan juga dapat
dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan
latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya
kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30)
“Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru
terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan
tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip
pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan,
yaitu:
“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau
yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2
kebawah.”
Bertolak
dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut
dalam judul penelitian : “Profesionalisme
Guru dalam Perspektif Pengalaman Mengajar dan Latar Belakang Pendidika
B. Identifikasi
Masalah
Relevan dengan latar belakang tersebut,
maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut :
1. Kajian-kajian
teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalisme guru di pengaruhi
oleh masalah-masalah : latar belakang pendidikan, Pengalaman mengajar Peka
terhadap peraturan dan pembaharuan, kepribadian (adil, jujur, dan objektif),
kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, keuletan dan ketekunan dalam bekerja,
dan motifasi yang tinggi.
2. Pengalaman
mengajar dan latar belakang pendidikan terpilih sebagai faktor yang
mempengaruhi profesionalisme guru, karena memilikki masalah urgen sebagai
berikut :
a. Banyaknya
guru yang kulang berpengalaman dalan berkependidikan, masih menjadi masalah
dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang kesulitan dalam
mengelola kelas, monoton dalam
penggunaan
metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih
kurang.
b. Pentingnya
latar belakang pendidikan untuk penjadi guru yang berkompeten dalam
meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan
permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau
S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalisme guru dalam meningkatkan
mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang perencanaan
pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa sekolah masih
ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting memenuhi jam
mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya itu bisa
ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran belum
baik, dan profesionalisme guru masih kurang.
3. Rendahnya
profesionalisme guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak
terteliti.
C. Batasan
dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat
dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih
sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya
pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan guru saja yang terpilih
menjadi faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru. Untuk memperjelas hal
tersebut, variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi
sebagai berikut :
1. Apakah
pengalaman mengajar berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
2. Apakah
latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
3. Apakah
pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat
profesionalisme guru?
D. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
Tujuan
penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni ;
1. Menguji
pengaruh pengalam mengajar terhadap profesionalisme guru
2. Menguji
pengaruh latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
3. Menguji
pengaruh pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap
profesionalisme guru
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut ;
1. Membuktikan
wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya
manusia.
2. Kontribusi
dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai
tempat penellitian dilakukan.
3. Referensi
bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar