Rabu, 20 Juli 2016

PROFESIONALISME GURU DALAM PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR DAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN (PROPOSAL FIKTIF)



PROFESIONALISME GURU dalam PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR dan LATAR BELAKANG PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan (Tilaar, 2002:86).
Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, 2006:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional.
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya. Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, guru profesional harus memiliki persyaratan, yang meliputi;
  1. Memiliki bakat sebagai guru.
  2. Memiliki keahlian sebagai guru.
  3. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
  4. Memiliki mental yang sehat.
  5. Berbadan sehat.
  6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
  7. Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
  8. Guru adalah seorang warga negara yang baik (dalam Yamin, 2007:5-7).
Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar dalam bukunya mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni :
1.      menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2.      menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3.      menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai,
4.      adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5.      memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Kunandar, 2007:47).
Kajian pendahuluan di sekolah memperlihatkan bahwa diantara sekian faktor-faktor di atas, yang menjadi masalah adalah pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan. Masalah-masalah tersebut diperoleh dari observasi pada 3 sekolah di sekitar lingkungan penulis.
Pertama, pengalaman mengajar. Beberapa masalah pengalaman mengajar di sekolah- sekolah tersebut diindikasikan oleh hal-hal berikut : Secara umum, pengalaman guru di Indonesia masih kurang, hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Marlock, selaku Koordinator Lapangan Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI), mengatakan bahwa “Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran di SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.” (www.kompas.com: 26/08/2008)
Kedua, latar belakang pendidikan. Masalah-masalah yang terkait dengan latar belakang masalah diantaranya adalah : terkait dengan kualitas guru yang telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya kualitas seorang guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun sudah bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan sebelum mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi dengan yang belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi guru dinilai kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan juga menunjukkan kurangnya profesionalisme guru.
Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan membawa kepada buruknya profesionalisme mereka. Berikut ini alasan-alasan penting yang menunjukkan bagaimana peran pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Penjelasan-penjelasan di atas telah memperlihatkan bagaimana pentingnya faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru. Baik secara teoritis dan empiris menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan diperhatikan dengan baik oleh pimpinan sekolah akan mendorong tingginya profesionalisme guru.

Alasan-alasan logis tersebut menjadi dasar yang kuat bagi peneliti untuk mengkaji hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.

Dengan adanya syarat sebagai guru yang profesional seperti, dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan masalah, dapat menggeneralisasi berbagai alternatif dalam memecahkan masalah, punya kepedulian kepada siswa dan teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus, diharapkan dapat meningkatkan 35% profesionalisme guru di sekolah.
Namun demikian, masih kurangnya pengalaman guru dan masih adanya guru yang tingkat pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan kurangnya tingkat profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu Tenaga Kependudukan Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional, kompetensi guru profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi kompetensi guru tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan tidak memenuhi kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi guru dimasuki oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga (www.tempointeraktif.com: 05/01/2006).”
Berdasarkan paparan di atas dapat dimaknai “bahwa telah terjadi kesenjangan profesionalisme guru di sekolah”. Hal ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga akan menurunya tingkat prestasi siswa, dan dapat berdamapk pada munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar (2007:46-47), Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

Bertolak dari dasar teori di atas, dalam penelitian ini sebagai faktor penduga penciptaan profesionalisme guru, sengaja dipilih faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan, dengan berbagai alasan yang cukup mendasar.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”

Bertolak dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut dalam judul penelitian : “Profesionalisme Guru dalam Perspektif Pengalaman Mengajar dan Latar Belakang Pendidika

B.     Identifikasi Masalah
Relevan dengan latar belakang tersebut, maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut :
1.      Kajian-kajian teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalisme guru di pengaruhi oleh masalah-masalah : latar belakang pendidikan, Pengalaman mengajar Peka terhadap peraturan dan pembaharuan, kepribadian (adil, jujur, dan objektif), kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, keuletan dan ketekunan dalam bekerja, dan motifasi yang tinggi.
2.      Pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terpilih sebagai faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru, karena memilikki masalah urgen sebagai berikut :
a.       Banyaknya guru yang kulang berpengalaman dalan berkependidikan, masih menjadi masalah dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang kesulitan dalam mengelola kelas, monoton dalam
penggunaan metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih kurang.
b.      Pentingnya latar belakang pendidikan untuk penjadi guru yang berkompeten dalam meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalisme guru dalam meningkatkan mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa sekolah masih ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting memenuhi jam mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya itu bisa ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran belum baik, dan profesionalisme guru masih kurang.
3.      Rendahnya profesionalisme guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak terteliti.

C.     Batasan dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan guru saja yang terpilih menjadi faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru. Untuk memperjelas hal tersebut, variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
1.      Apakah pengalaman mengajar berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
2.      Apakah latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
3.      Apakah pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?

D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni ;
1.      Menguji pengaruh pengalam mengajar terhadap profesionalisme guru
2.      Menguji pengaruh latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
3.      Menguji pengaruh pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut ;
1.      Membuktikan wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
2.      Kontribusi dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai tempat penellitian dilakukan.
3.      Referensi bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar