Rabu, 20 Juli 2016

PROFESIONALITAS GURU DITINJAU DARI ASPEK MOTIVASI DAN STATUS AKADEMIK (PROPOSAL FIKTIF)



PROFESIONALITAS GURU DITINJAU DARI ASPEK MOTIVASI DAN STATUS AKADEMIK


preview_html_m6b1eb106


Di susun oleh :
Choriah Hanayati
A210140137





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, guru merupakan titik sentral dalam pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan, dengan kata lain salah satu persyaratan penting bagi peningkatan mutu pendidikan adalah apabila pelaksanaan proses belajar mengajar dilakukan oleh pendidik-pendidik yang dapat diandalkan keprofesionalannya. Agus F. Tamyong dalam Usman (2010: 15)menyatakan guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang professional. Undang-undang guru dan dosen No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa professional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan (Tilaar, 2002: 86).
Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, Oemar 2006:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional.
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya. M. Pidarta (1980:45) sambil mengutip pendapat Edgar H. Schien mengemukakan kriteria profesi sebagai berikut:
1.      harus bekerja full-time di bidang profesinya,
2.      memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja dalam bidangnya,
3.      memiliki pengetahuan khusus dan keterampilan yang diperolehnya dalam pendidikan yang cukup lama,
4.      membuat keputusan-keputusan dalam tindakannya dengan bekerja tanpa pamrih,
5.      harus berorientasi pelayanan kepada klien, dan yang ia pentingkan adalah bagaimana dapat melayani siswa dengan sebaik-baiknya demi kemajuan siswa itu sendiri,
6.      memiliki pengetahuan yang spesifik.
Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar dalam bukunya mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni :
1.      menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2.      menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3.      menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai,
4.      adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5.      memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Kunandar, 2007: 47).

Kajian pendahuluan di sekolah memperlihatkan bahwa diantara sekian faktor-faktor di atas, yang masih menjadi masalah adalah motivasi mengajar dan status akademik. Masalah-masalah tersebut di peroleh dari hasil kuisioner kepada 25 guru, memperlihatkan urutan faktor-faktor yang paling menjadi masalah sampai faktor yang kurang menjadi masalah bagi guru, yakni (1) Motivasi kerja (2) Status akademik (3) Kurang memahami kompetensi (4) hubungan antar guru (5) pengawasan.
Faktor-faktor keprofesionalan guru
Frequensi (orang)
Persentase (%)
Motivasi kerja
10 orang
40%
Status akademik
8 orang
32%
Kurang memahami kompetensi
3 orang
12%
Hubungan antar guru
3 orang
12%
Pengawasan
1 orang
4%

25 orang
100%

Pertama, motivasikerja guru. Beberapa masalah motivasi kerja guru di sekolah terutama diindikasikan oleh hal-hal berikut:Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah disebutkan bahwa ada enam faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan, yaitu sikap kerja, tingkat keterampilan, hubungan tenaga kerja dengan pimpinan, manajemen pengelolaan, efisiensi tenaga kerja, dan kesungguhan.Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Sedarmayanti bahwa untuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan, keduanya tidak dapat menghasilkan keluaran yang tinggi.
Kedua, status akademik. Masalah-masalah yang terkait dengan status akademik diantaranya adalah : terkait dengan kualitas guru yang telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya kualitas seorang guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun sudah bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan sebelum mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi dengan yang belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi guru dinilai kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan juga menunjukkan kurangnya profesionalitas guru. Latar belakang pendidikan seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas atau pekerjaan. Sesuai denganpendapat Manullang (1994: 59), bahwa “Dalam menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan lebihmendekati sasaran.
Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan membawa kepada buruknya profesionalitas mereka. Berikut ini alasan-alasan penting yang menunjukkan bagaimana peran motivasi kerja guru dan status akademik terhadap profesionalitas guru.
Pertama, motivasi kerja guru. Luthans (2008: 158) menemukan bahwa “Motivation is a process that starts with a physiological or psychological deficiency or need that activates a behavior or a drive that is aimed at a goal or incentive”. Guru yang memiliki motivasi tinggi akan memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah sebagai tantangan. Ia akan berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan itu. Dengan adanya perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan motivasi para guru untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga menumbuhkan komitmen dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung jawab demi kemajuan organisasi. Hal ini seperti yang diungkap oleh Santoso (2013: 1) yang menyatakan bahwa guru bersertifikasi mau menerima uang tunjangan sertifikasi, tetapi enggan meningkatkan kualitas profesionalismenya. Banyak guru yang jam terbangnya sudah kadaluarsa, namun metode mengajarnya masih konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada guru, tidak terjadi interaksi multiarah. Sehingga sama sekali tidak mencerminkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Sedangkan masalah gairah mengajar terkait erat dengan menurunya motivasi mengajar yang disebabkan oleh banyak alasan. Mengajar dianggap sebagai tugas rutin dan keseharian, bukan sebagai tugas professional. Sehingga guru kurang termotivasi untuk melkukan berbagai pembaharuan. Akibatnya kreatifitas dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran sering mandeg.
Kedua, status akademik. Ahmad Gazali (2012: 26)status akademik merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi status akademik seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena status akademik akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Status akademik juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan status akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Penjelasan-penjelasan di atas telah memperlihatkan bagaimana pentingnya faktor motivasi kerja gurudan status akademik terhadap profesionalitas guru. Baik secara teoritis dan empiris menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara motivasi kerja gurudan status akademik dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila motivasi kerja gurudan status akademik diperhatikan dengan baik oleh pimpinan sekolah akan mendorong tingginya profesionalitas guru.
Alasan-alasan logis tersebut menjadi dasar yang kuat bagi peneliti untuk mengkaji hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.
Dengan adanya syarat sebagai guru yang profesional seperti, dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan masalah, dapat menggeneralisasi berbagai alternatif dalam memecahkan masalah, punya kepedulian kepada siswa dan teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus, diharapkan dapat meningkatkan 35% profesionalitas guru di sekolah.
Namun demikian, masih kurangnya motivasi guru dan masih adanya guru yang tingkat pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan kurangnya tingkat profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu Tenaga Kependudukan Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional, kompetensi guru profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi kompetensi guru tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan tidak memenuhi kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi guru dimasuki oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga (www.tempointeraktif.com: 05/01/2006).”
Faktor yang mengakibatkan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru yakni kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri, diantaranya rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme mereka. Penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran masih berada di bawah standar (Syah, 1988).
Berdasarkan paparan di atas dapat dimaknai “bahwa telah terjadi kesenjangan profesionalisme guru di sekolah”. Hal ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga akan menurunya tingkat prestasi siswa, dan dapat berdamapk pada munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar (2007:46-47), Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.
Bertolak dari dasar teori di atas, dalam penelitian ini sebagai faktor penduga penciptaan profesionalitas guru, sengaja dipilih faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan, dengan berbagai alasan yang cukup mendasar.
Pertama, motivasi kerja guru. Menurut Robbins (2007: 166), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Motivasi kerja seorang guru adalah keadaan yang membuat guru mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru akan memberikan kekuatan untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya.
Kedua, status akademik. Ahmad Gazali (2012: 26)Status akademik merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi status akademik seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena status akademik akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Status akademik juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan status akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Darwin (2002: 34), juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”

Bertolak dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut dalam judul penelitian : “Profesionalitas Guru dalam aspek Motivasi kerja guru dan Status akademik”.

B.     Identifikasi Masalah
Relevan dengan latar belakang tersebut, maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:
1.      Kajian-kajian teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalitas guru di pengaruhi oleh masalah-masalah: motivasi kerja, status akademik, kurang memahami kompetensi, hubungan antar guru, dan pengawasan.
2.      Motivasi kerja guru dan status akademik terpilih sebagai faktor yang mempengaruhi profesionalitas guru, karena memilikki masalah urgen sebagai berikut:
a.       Banyaknya guru yang kurang termotivasi dalam bekerja menjadi tenaga kependidikan, masih menjadi masalah dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang kesulitan dalam mengelola kelas, kurang berinovasi dan monoton dalampenggunaan metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih kurang.
b.      Pentingnya status akademik seorang guru untuk penjadi guru yang berkompeten dalam meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalitas guru dalam meningkatkan mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa sekolah masih ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting memenuhi jam mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya itu bisa ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran belum baik, dan profesionalitas guru masih kurang.
3.      Rendahnya profesionalitas guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak terteliti.
                             
C.     Batasan dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya motivasi kerja guru dan status akademik guru saja yang terpilih menjadi faktor yang mempengaruhi profesionalitas guru. Untuk memperjelas hal tersebut, variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1.      pengaruh motivasi kerja guru secara parsial (mandiri) terhadap profesionalitas guru
2.      pengaruh status akademik secara parsial (mandiri) terhadap profesionalitas guru
3.      pengaruh motivasi kerja guru dan status akademik secara simultan (bersama) terhadapa profesionalitas guru.
Sesuai dengan hubungan yang telah dibatasi tersebut, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.      apakah motivasi kerja guru berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas guru?
2.      apakah status akademik berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas guru?
3.      apakah motivasi kerja guru dan status akademik berpengaruh terhadap tingkat profesionalitas guru?




D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni;
1.      menguji pengaruh motivasi kerja guru terhadap profesionalitas guru
2.      menguji pengaruh status akademik terhadap profesionalitas guru
3.      menguji pengaruh motivasi kerja guru dan status akaademik terhadap profesionalitas guru.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut;
1.      membuktikan wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia
2.      kontribusi dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai tempat penelitian dilakukan
3.      referensi bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.

BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Kajian Pustaka
1.      Motivasi kerja guru
Robbins (2007: 166) motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Motivasi kerja seorang guru adalah keadaan yang membuat guru mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru akan memberikan kekuatan untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya. Sedangkan yang dikemukakan oleh Luthans (2008: 158) Guru yang memiliki motivasi tinggi akan memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah sebagai tantangan. Ia akan berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan itu. Dengan adanya perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan motivasi para guru untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga menumbuhkan komitmen dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung jawab demi kemajuan organisasi. Robbins (dalam Priansa, 2014: 201) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menunjukkan intensitas individu, arah, dan ketekunan dari upaya menuju pencapaian tujuan. Menurut Danim (2012: 23) Motivasi dapat diartikan sebagai setiap daya gerak atau daya dorong yang muncul pada diri individu untuk secara sadar mengabdikan diri bagi pencapaian tujuan organisasi. Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan sesorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya (Uno, 2012: 1). Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi lebih dekat pada mau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai pendorong mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. Motivasi dapat juga diartikan sebagai proses untuk mencoba memengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu.
2.      Status akademik
Menurut pendapat Manullang  (1994: 59) bahwa “Dalam menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan lebihmendekati sasaran. Sedangkan menurutSudarwan Darwin (2002: 34) bahwa juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”. menurut Hamdani (2006), “Dalam hal status akademik seorang guru, maksudnya guru harus memiliki latar belakang ilmu keguruan dan ilmu kependidikan. Ini artinya guru dengan status akademik non kependidikan atau non keguruan tidak dapat disebut memiliki standar kompetensi guru”, (http.freelist.org/aechives/PPC/02-2006/msg004.html)
3.      Profesionalitas guru
Jarvis dalam Sagala (2006: 198) professional dapat diartikan bahwa seseorang yang melakukan tugas profesi juga sebagai ahli (expert) apabila dia secara spesifik memperolehnya dari belajar. Sedangkan Tilar (2002: 28) mengemukakan bahwa seorang professional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya.
Seorang professional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalitas, dan bukan secara matiran. Profesionalitas bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesionalitas akan terus menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan. Sedangkan menurut Agus F. Tamyong dalam Usman (2010: 15) menyatakan guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal
Hakikat guru professional adalah guru yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi para siswanya dengan kemampuan khusus yang dimilikinya, sehingga siswa dapat menerima dan memahami penyampaian materi yang diberikan. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan teknis edukatif dalam melaksanakan tugasnya, tetapi juga harus memiliki karkter yang dapat diandalkan sehingga dapat menjadi panutan bagi siswa, keluarga, dan masyarakat. Pembinaan karakter professional guru mendorong pengembangan profesi guru secara terus menerus dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan pengajaran masing-masing guru. Menurut Yamin dan Maisah (2010: 28) guru professional adalah guru yang mengedepankan mutu dan kualitas layanan dan produknya, layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa, dan pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasarkan potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu.

B.     Penelitian Yang Relevan
1.      Penelitian yang dilakukan oleh Mas Ayu Fadilah (2007) diperoleh hasil bahwa: Guru merupakan pekerjaan professional, suatu profesi yang menuntut keahlian tertentu yang karena sifatnya membutuhkan persyaratan dasar, keterampilan teknis dan sikap kepribadian, oleh sebab itu guru harus memiliki kualifikasi professional sehingga mampu mengemban tugas dengan baik dan professional, oleh karena itu sekolah harus melihat kualitas guru, kinerja guru yang tinggi dilandasi dengan adanya kedisiplinan sarana dan fasilitas yang mendukung, penguasaan bidang studi, pemahaman peserta didik penerapan pembelajaran yang mendidik, dan pengembangan kepribandian dan keprofesionalan. Hal inilah yang menyangkut dalam pengembangan profesionalitas guru. Masalah dalam penelitian ini adalah faktor waktu dan tenaga kedisiplinan guru, mengikuti pelatihan dan seminar, faktor keahlian, tanggung jawab guru kepada peserta didik, saran ada fasilitas mengajar yang disediakan sekolah, serta kerja sama antar teman sejawat. Hal yang sama pula diperoleh dari penelitian iini yang mengatakan semakin sering guru pendidikan maupun pelatiha  maka akan menambah kemampuan guru dalam menguasai bidang studi sarta mampu dalam penerapannya.
2.      Penelitian yang dilakukan oleh Mas Ayu Falidalah (2007) diperoleh hasil bahwa: Pelatihan/ pendidikan yang perlu disiapkan untuk para guru bukanlah pendidikan tentang konsep-konsep mendidik, tetapi yang  lebih utama adalah pendidikan ilmu murni. Oleh karenanya kerjasama dengan universitas perlu dikembangkan untuk membuat sebuah link peng-update-an keilmuan guru. Selain memberikan peluang belajar da berkembang kepada guru di daerah, pemerintah daerah juga perlu mempelopori forum ilmiah guru. Forum yang akan memberikan kesempatan kepada guru-guru daerah untuk saling bertukar metode mengajar, keilmuan baru dan sekaligus melatih guru untuk menyampaikan idenya secara ilmiah. Dalam forum ilmiah ini, sangat perlu pula mengundang paka/ ilmuan/ praktisi untuk menambah keluasan keilmuan para guru. Hal yang sama pula diperoleh dari penelitian ini yang mengatakan semakin sering guru mengikuti pendidikan maupun pelatihan maka akan menambah kemampuan guru didalam penguasaan pada bidang studinya serta mampu dalam penerapannya.
3.      Penelitian yang dilakukan oleh Rachman Halim Yustiyawan (2014)yang berjudul Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Professional Guru yang Bersertifikasi terhadap Kinerja Guru, diperoleh hasil bahwa bagi guru-guru untuk lebih meningkatkan motivasi dalam bekerja dan terus menggali kompetensi professional yang dimiliki yang dapat menunjang peningkatan kinerja dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional, karena mengingat dari hasil penelitian ini motivasi dan kompetensi professional cenderung memiliki pengaruh terhadap  kinerja guru. Bagi kepala sekolah diharapkan lebih memperhatikan serta selalu berupaya untuk meningkatkan serta selalu berupaya untuk meningkatkan motivasi dan kompetensi professional seorang guru.
4.      Penelitian yang dilakukan oleh Usep Setia Laksana yang berjudul Hubungan Pelatihan, Pendidikan, dan Pengalaman mengajar tehadap Profesionalitas Guru tahun 2009, bahwa “terdapat hubungan positif antara pendidikan, pelatihan dan pengalaman mengajar terhadap profesionalitas guru bagi seorang guru adalah pendidikan pelatihan, pendidikan, dan pengalaman mengajar. Oleh karena itu guru profesional adalah orang yang memiliki kemempuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka guru-guru perlu pengembangan dan peningkatan ketrampilan melalui berbagai pelatihan. Hal ini juga akan mendukung penerapan kemampuan yang diperolah dari pendidikan formal, karena pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan salah satu fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang harus dilaksankan. Dengan pendidikan dan pelatihan guru berarti memberikan kesempatan pada guru untuk meningktkan kualitas kerjanya”.

C.     Kerangka Konseptual
1.      Hubungan motivasi kerja guru dengan profesionalitas guru.
Hubunga-hubungan motivasi kerja guru dengan profesionalitas guru dalam penelitian ini diperlihatkan melalui teori-teori dn hasil penelitian sebelumnya antara lain :
Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah disebutkan bahwa ada enam faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan, yaitu sikap kerja, tingkat keterampilan, hubungan tenaga kerja dengan pimpinan, manajemen pengelolaan, efisiensi tenaga kerja, dan kesungguhan.Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Sedarmayanti bahwa untuk kerja yang baik dapat dipengaruhi oleh kecakapan dan motivasi. Kecakapan tanpa motivasi atau motivasi tanpa kecakapan, keduanya tidak dapat menghasilkan keluaran yang tinggi. Luthans (2008: 158) menemukan bahwa “Motivation is a process that starts with a physiological or psychological deficiency or need that activates a behavior or a drive that is aimed at a goal or incentive”. Guru yang memiliki motivasi tinggi akan memandang berbagai kekurangan yang ada di sekolah sebagai tantangan. Ia akan berusaha sedapat mungkin untuk mengatasi kekurangan itu. Dengan adanya perhatian yang baik terhadap guru, akan dapat menimbulkan motivasi para guru untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan tugas sehingga menumbuhkan komitmen dalam melakukan pekerjaan yang berkualitas dan bertanggung jawab demi kemajuan organisasi.Hal ini seperti yang diungkap oleh Santoso (2013: 1) yang menyatakan bahwa guru bersertifikasi mau menerima uang tunjangan sertifikasi, tetapi enggan meningkatkan kualitas profesionalitasnya. Banyak guru yang jam terbangnya sudah kadaluarsa, namun metode mengajarnya masih konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada guru, tidak terjadi interaksi multiarah. Sehingga sama sekali tidak mencerminkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Sedangkan masalah gairah mengajar terkait erat dengan menurunya motivasi mengajar yang disebabkan oleh banyak alasan. Mengajar dianggap sebagai tugas rutin dan keseharian, bukan sebagai tugas professional. Sehingga guru kurang termotivasi untuk melkukan berbagai pembaharuan. Akibatnya kreatifitas dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran sering mandeg.Menurut Robbins (2007: 166), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Motivasi kerja seorang guru adalah keadaan yang membuat guru mempunyai kemampuan atau keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Motivasi kerja guru akan memberikan kekuatan untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan sehingga seorang guru mengetahui adanya tujuan yang relevan antara tujuan organisasi dengan tujuan pribadinya.
Teori di atas memperlihatkan bahwa motivasi berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru, yakni apabila program motivasi kerja guru baik maka profesionalitas yang dimiliki guru akan tinggi, demikian sebaliknya.







Rounded Rectangle: Motivasi


Rounded Rectangle: Profesionalitas guru




 




2.      Hubungan status akademik dengan profesionalisme guru
Hubungan-hubungan status akademik dengan profesionalitas guru dalam penelitian ini diperlihatkan melalui teori-teori antara lain:
Pendapat Manullang (1994: 59),bahwa “Dalam menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan lebihmendekati sasaran. Ahmad Gazali (2012: 26) status akademik merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi status akademik seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalitasnya, karena status akademik akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalitas mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Status akademik juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan status akademik sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Teori di atas memperlihatkan bahwa status akademik berpengaruh positif terhadap profesionlisme guru, yakni apabila persyaratan status akademik ditegakkan maka profesionalitas guru akan meningkat, demikian sebaliknya.







Rounded Rectangle: Status akademik


Rounded Rectangle: Profesionalitas guru




 



Mengingat profesionalitas guru dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, maka dalam penelitian ini kedua hubungan tersebut akan diteliti baik secara parsial maupun simultan, dengan paradigm sebagai berikut:







 








Pengaruh motivasi kerja guru dan status akademik terhadap profesionalitas guru
Keterangan:
X1 = motivasi guru
X2 = status akademik
Y = profesionalitas guru
1.      garis pengaruh motivasi guru terhadap profesionalitas guru (hubungan parcial)
2.      garis status akademik terhadap profesionalitas guru (hubungan parcial)
3.      garis pengaruh antara motivasi kerja guru dan status akademik terhadap profesionalitas guru

D.    HIPOTESIS
Mengingat adanya tiga hubungan seperti diatas, pada kerangka konseptual maka hipotesis dalam penelitian ini juga terdapat tiga poin, diantaranya:
·         Hipotesis pertama: motivasi guru berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru
·         Hipotesis kedua: status akademik berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru
·         Hipotesis ketiga: motivasi guru dan status akademik berpengaruh positif terhadap profesionalitas guru.





BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Definisi Operasional
1.      Varibel Independen (bebas)
a.       Motivasi (X1): motivasi  erat hubungannya  dengan  perilaku  dan  kinerja atau  prestasi  kerja (Uno, 2008:67)
Adapun  faktor-faktor  yang mempengaruhi motivasi kerja guru menurut Roth et al (2007) yaitu:
1)      Motivasi ekstrinsik yang meliputi:
a)      Penghargaan  atas  usaha  dan prestasi guru
b)      Kepuasan terhadap cara mengajar
c)      Pengamatan  Kepala  Sekolah terhadap pekerjaan guru
2)      Motivasi intrinsik yang meliputi:
a)      Cara mengajar yang menyenangkan
b)      Hubungan  dengan  orang  tua  siswa yang harmonis
c)      Hubungan  dengan  siswa  yang harmonis
b.      Status akademik (X2): Latar belakang pendidikan seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas atau pekerjaanpeluang untuk menjadi guru yang berkualitas tidak hanya dengan motivasi melainkan ilmu bagaimana cara untuk mentrasfer ilmu dengan efekti, efisien, dan inovatif yang bisa di dapat dengan bersekolah sampai jenjang perguruan tinggi. Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
1)      tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
2)      tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
3)      tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”


2.      Variable Dependen (terikat):
Profrsionalisme guru (Y): profesionalitas merupakan sikap mental yang senantiasa mendorong untuk mewujudkan diri, sebaga seorang yang bertanggungjawab pada profesinya, kualitas profesionalitas ditunjukkan oleh lima unjuk kerja sebagai berikut:
a)      Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekti standar ideal
b)      Meningkatkan dan memelihara citra profesi
c)      Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan professional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilan
d)     Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi
e)      Memiliki pengambangan terhadap profesinya. (diadaptasi dari H. Mohammad Surya)
Profesionalitas guru dalam penelitian ini didefinisikan sebagai seperangkat fungsi dan tugas dalam pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melaluipendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu mengembangkankekaryaannya itu secara ilmiah disamping mampu menekuni bidang profesinya ituselama hidupnya.Guru dapat dikatakan profesional jika memenuhi kompetensi-kompetensiguru. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:
a)      Kompetensi pedagogic
b)      Kompetensi kepribadian
c)      Kompetensi social
d)     Kompetensi profesional
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di sekolah SMA Negri Nusabakti, Sukoharjo. Penelitian akan direncanakan akan berlangsung dari bulan Agustus sampai dengan November 2016 (rencana penelitian dapat dilihat pada lampiran) pemilihan sekolah SMA Negri Nusabakti sebagai objek penelitian didasarkan pada alasan dalam sekolah yang akan diteliti ini terlihat banyak siswa yang berada di luar ruangan, beberapa guru yang terlihat keluar masuk sekolahan dan banyak yang berada di dalam kantor guru, membuat peneliti tertarik dengan sekolah ini karena cocok untuk dijadikan objek penelitian.

C.     Populasi dan Sampel
Sugiyono  (2011:8)  pendekatan  penelitian  kuantitatif  ini digunakan  untuk meneliti  pada  populasi,  atau  sampel tertentu  yang  representatif.  Proses penelitian  ini  bersifat deduktif,  dimana  untuk  menjawab  rumusan  masalah digunakan  konsep  atau  teori  sehingga  dapat  dirumuskan hipotesis. Pengumpulan  data  dalam  penelitian menggunakan  instrumen  penelitian  dengan  tujuan  untuk menguji hipotesis yang  telah ditetapkan. Data yang  telah terkumpul  selanjutnya  dianalisis  menggunakan  statistik inferensial sehingga  dapat  disimpulkan  hipotesis  yang dirumuskan terbukti atau tidak.
Dalam  penelitian  ini  menggunakan  rumusan masalah  asosiatif  dengan  hubungan  kausal.  Menurut Sugiyono (2011:36-37) rumusan masalah asosiatif adalah suatu  rumusan  masalah  penelitian  yang  bersifat menanyakan  hubungan  antara  dua  variabel  atau  lebih. Hubungan  kausal  adalah  hubungan  yang  bersifat  sebab akibat,  yang  terdapat  variabel  independen  (X),  yakni variabel yang mempengaruhi, dan variabel dependen (Y). yaitu variabel yang dipengaruhi. Penelitian ini digunakan untuk  mencari  hubungan  sebab  akibat  antara  variabel independen dan variabel dependen.
Rancangan  penelitian  ini  terdiri  dari  dua  variabel independen  (X)  dan  satu  variabel  dependen  (Y). Penelitian  ini bertujuan untuk mencari pengaruh variabel X1  dengan  Y,  yakni  motivasi  guru  terhadap progesionalisme guru, dan mencari pengaruh X2 dengan Y,  yakni  pengaruh  status akademik guru  terhadap  profesionalitas guru.  Serta  pengaruh  X1 dan  X2  terhadap  Y,  yakni  pengaruh  motivasi  dan status akademik  guru  secara bersama-sama terhadap profesionalitas guru. Subjek penelitianyang digunakan dalam penelitian Profesionalitas guru ditinjau dari aspek Motivasi  dan  status akademik di SMA Negeri Nusabakti yakni  ialah  seluruh di SMA Negeri Nusabakti, secara  keseluruhan  guru  di  SMA  Negeri  Nusabakti berjumlah 46 guru.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik  pengumpulan  data  menggunakan  angket atau kuisioner, observasi, dan dokumentasi.Uji validitas dan Uji realibilitas intrumen pada penelitian ini dilakukan dengan  menyebar  angket  atau  instrumen  kepada  30 responden.  Responden  yang  digunakan  dalam  uji validitas  dan  realibilitas  instrumen  penelitian ini adalah guru SMA Negeri Nusabakti. Instrumen  penelitian  ini  diuji cobakan dengan mengacu kepada kisi-kisi instrumen penelitian yang terdiri dari penjabaran indikator-indikator setiap variable:
1.      Motivasi guru
Indikator motivasi guru merupakan rangkaian pemberian dorongan kepada seseorang untuk melakukan tindakan pencapaian tujuan yang meliputi keterlibatan terhadap kerja/ profesi keinginan mobilitas ke atas, pandangan ke dalam karier, maupun mengambil resiko, kemauan untuk bersaing (Siagian, 1982). Jumlah butir instrument sebanyak 7 buah yang disusun dalam skala rating (rating scale), sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3, 4).
2.      Status akademik
Latar belakang pendidikan guru dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menjelaskan bahwa guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Pada umumnya belum semua guru berpendidikan D-IV atau S1. Beberapa ada yang masih D3, D2, D1, PGSLP, PGSMTP, bahkan SMA. Selain itu saat ini mulai ada beberapa guru yang melanjutkan jenjang studi ke S2 dalam rangka aktualisasi diri. Pendidikan guru juga dapat ditempuh melalui pendidikan non formal seperti kursus yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal. Jumlah butir instrument sebanyak 4 buah yang disusun dalam skala rating (rating scale), sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3, 4).
3.      Profesionalitas guru
Instrument profesionalitas guru, masa kerja mengajarnya guru diharapkan memilikisemakin banyak pengalaman. Pengalaman-pengalaman ini erat kaitannya denganpeningkatan profesionalitas pekerjaan (Dedi Supriadi, 1999: 21). Jumlah butir instrument sebanyak 15 buah yang disusun dalam skala rating (rating scale)sedangkan opsi jawaban sebanyak 4 pilihan (1, 2, 3, 4).
Untuk menguji ketepatan instrument (validitas) dan kelayakan instrument (reliabilitas). Pengujian validitas dan reliabilitas ini dilakukan sebelum penelitian sesungguhnya, yakni dengan mengujicobakan instrument yang telah disusun kepada responden uji coba sebanyak 25 orang.
Pengujian lengkapi dengan uji validitas dan reabilitas menggunakan cara-cara berikut :
1.      Validitas
a.       Validitas isi: pengujian isi angket dengan analisis rasional, kesesuaian dengan teori, dan pertimbangan ahli. Butir-butir instrument didiskusikan agar benar-benar mencerminkan variable yang diukur. Pengujian validitas isi ini tidak menggunakan teknik statistik.
b.      Validasi konstruk: pengujian konstruk angket/instrument dengan mengkorelasikan nilai-nilai setiap butir instrument dengan nilai totalnya dengan mneggunakan teknik statistic korelaisi, melalui bantuan program pengolah data SPSS.
2.      Reliabilitas
Pengujian relibilitas menggunakan pendekatan konsisten internal, yaitu teknik belah dua (split half) dengan memilah butir instrument bernomor ganjil dan butir instrument bernomor genap, kemudian mengkorelasinya yang dilanjutkan dengan analisis Spearman Brown. Pengolahan datanya menggunakan bantuan program pengolah data SPSS.15

E.     Teknik Analisis Data
Pilihan analisis statistik dalam penelitian didasarkan pada:
1.      Tujuan penelitian bersifat:
a.       Uji prediktif antar variabel, digunakan Regresi
b.      Uji komparasi antar variabel, digunakan Anava
2.      Jenis pengukuran variabel:
a.       Variabel nominal, ordinal, interval, atau rasional
b.      Banyaknya variabel yang dianalisis
Panduan analisis statistik:
Variabel bebas
Variabel terikat
Teknik statistik
Tujuan
Skala
Jumlah
Skala
Jumlah
Interval
1
Interval
1
Anareg sederhana disertai korelasi product moment
Mencari pengaruh dan memprediksi

>1

1
Angket ganda disertai korelasi ganda
Mencari pengaruh dan memprediksi
>1

>1
Anareg kanonik disertai korelasi ganda
Mencari pengaruh dan memprediksi


Variabel bebas
Variabel terikat
Teknik statistik
Tujuan
Skala
Jumlah
Skala
Jumlah
Nominal
1
Interval
1
Anareg sederhana dengan variabel Dummy
Mencari pengaruh dan memprediksi
>1
1
Anava faktorial
Membedakan Y
Anareg ganda dengan variabel Dummy
Mencari pengaruh dan memprediksi
Interval
>1
Nominal
>1
Anava faktorial
Membedakan Y

1
1
·     Uji-t
·     Anava 1 jalan
·     Uji diskriminan
Membedakan Y berdasarkan X
1
>1
·     Anava factorial
Membedakan Y berdasarkan X
>1
1
·     Uji diskriminan ganda
Nominal
1
Nominal
1
·     Chi Square
·     Koefisien phi
·     Koefisien Kontingensi
Membedakan Y berdasarkan X (melalui uji beda frekuensi)
1
Ordinal
1
·     Koefisien Phi
·     Koefisien Kontingensi
>1

>1
·     Koefisien kontingensi

Dengan bertumpu pada panduan analisis di atas, dimana:
1.      Penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada/ tidaknya pengaruh/ kontribusi.
2.      Banyaknya variabel (variabel bebas 2 buah, dengan variabel tak bebas = 1 buah), maka teknik analisis data yang tepet adalah regresi linier berganda dengan persamaan sebagai berikut: Y= a + b1 X1 + b2 X2 +
3.       
Adapun pengolahan data untuk menguji ketiga hipotesis di atas menggunakan bantuan program pengolah data SPSS.15



DAFTAR PUSTAKA

Usman, M. Uzer.2010.Menjadi GuruProfesional.Bandung:PT. Remaja Rosda Karya.
Tilaar, H. A. R..2002.Membenahi Pendidikan Nasional.Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Manullang.1994. Pedoman Praktis Pengambilan Keputusan.Yogyakarta:BPFE
www.kompas.com:27/09/2010
Luthans,Fred.2008.Organizational Behaviour.New York:McGraw-Hill Inc, p.
Santoso, Kurniawan  Adi.02 September 2013.Guru,Jagalah Profesionlisme-mu.  Malang  Post, hlm 1
Ahmad Gazali, 14 Maret 2012.Pengaruh Latar Belakang Pendidikan dan  Pengalaman Mengajar Terhadap Profesionalisme  Guru Smk Kompetensi Keahlian Teknik Audio-Video  Se Kota Yogyakarta.Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika UNY:Skripsi Tidak di Terbitkan.
Ahmad Barizi.(2009).Menjadi Guru Unggul.Yogyakarta:Ar Ruzzmedia
SudarwanDanim.(2002).Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.Bandung:Pustaka Setia
Kunandar.2007.Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
www.tempointeraktif.com: 05/01/2006
Robbins, S. P. & Judge, T. A..2007.Perilaku Organisasi.Alih Bahasa oleh Diana  Angelina.Jakarta:Salemba Empat.
Uno, Hamzah B..2012.Teori Motivasi dan Pengukurannya.Jakarta: Bumi  Aksara.
Yamin dan Maisah.2010.Standart Kinerja Guru.Jakarta:Gaung Persada.
Yustiyawan, R.Halim & Desi Nurhikmahyanti.3 Januari 2014. Pengaruh Motivasi dan Kompetensi Profesional Guru yang Bersertifikasi Terhadap Kinerja Guru di SMP Negeri 1 Surabaya.Manajemen Pendidikan UNNES:Jurnal  Tidak di Terbitkan.
Roth, G., Assor, A., Kanat-Maymon, Y, & Kaplan,  H. 2007.Autonomous Motivation  for  Teaching:How  Self-Ditermined  Teaching  May  Lead  to Self-Determined Learning  Journal  of Education  Psychology.99  (4): 761-774.Sagala,Saiful.2006.Kemampuan  Profesional  Guru  dan Tenaga  Kependidikan.Bandung: Alfabeta
Sagala, Saiful.2006.Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta
Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.Bandung:Alfabeta.
Hamalik, Oemar. 2006.  Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara
Danim, Sudarwan. 2012. Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok. Jakarta : Rineka Cipta
(http.freelist.org/aechives/PPC/02-2006/msg004.html)
M. Manullang. (1994). Manajemen Personalia. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
https://arihdyacaesar.wordpress.com/2012/01/17/pengertian-belajar/




LAMPIRAN:
Konsep, Sub Konsep, Indikator Empirik Motivasi
Konsep
Sub Konsep
Indikator Empirik
Motivasi Guru (X1)
Harapan terhadap aktifitas yang dilakukan
1.      Saya lebih mengutamakan tugas pokok
2.      Jika tidak dapat mengajar karena sakit atau kepentingan lain, saya berusaha memberitahukan kepada kepala sekolah dan memberi tugas pada siswa
Dorongan untuk meraih kemajuan berdasarkan standar yang telah ditentukan
3.      Saya harus membuat program pengajaran pada awal kegiatan pembelajaran berupa Prota, Promes, RPP, RH
4.      Hasil karya/ ulangan siswa, sangat perlu dipajang pada dinding kelas sebagai saran motivasi dan intropeksi siswa
Keinginan untuk berbuat baik
5.      Dalam melaksanakan pekerjaan, saya berusaha melakukan dengan baik serta selalu mengutamakan kualitas
6.      Dalam setiap rapat saya selalu berani mengutamakan pendapat, ide, gagasan yang berkaitan dengan peningkatan mutu
7.      Saya sering memberikan berbagai macam evaluasi untuk memantau kemajuan siswa baik berupa pretes, postes, ulangan harian, tugas, PR dan lain-lain.


Konsep, dan Indikator Empirik Status Akademik
Konsep
Indikator Empirik
Status Akademik (X2)
1.      Jenjang pendidikan
2.      Kesesuaian pendidikan dengan penempatan
3.      Keikutsertaan
4.      Pendidikan terakhir


Konsep, dan Indikator Empirik Profesionalitas Guru
Konsep
Indikator Empirik
Profesionalitas guru (Y)
1.      Menguasai teori dan prinsip pembelajaran
2.      Mengembangkan kurikulum mata pelajaran
3.      Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
4.      Memfasilitasi pengembangan potensi siswa
5.      Penilaian prestasi belajar siswa
6.      Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
7.      Menjunjung tinggi kode etik profesi guru dan menunjukkan etos kerja yang tinggi
8.      Menampilkan image yang positif bagi peserta didik dan masyarakat
9.      Bersikap tidak diskriminatif
10.  Menguasai materi
11.  Mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif
12.  Mengembangkan profesionalitas
13.  Menguasaan standar kompetensi mata pelajaran
14.  Membuat karya ilmiah mengenai penelitian pendidikan
15.  Membuat makalah pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar