Kamis, 08 Desember 2016

proposal fiktif, PROFESIONALISME GURU DALAM PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR DAN ATAR BELAKANG PENDIDIKAN




PROFESIONALISME GURU dalam PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR dan LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akanterus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan (Tilaar, 2002; 86).
Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, 2006:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional.
Berbicara tentang profesionalisme guru, tidak lepas dari keahlian khusus yang dimiliki oleh seorang guru, yang diperoleh baik melalui pendidikan profesional, (Soedijarto, 1997; 87)
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya. Yamin, (2007:5-7)dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, guru profesional harus memiliki persyaratan, yang meliputi;
  1. Memiliki bakat sebagai guru.
  2. Memiliki keahlian sebagai guru.
  3. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
  4. Memiliki mental yang sehat.
  5. Berbadan sehat.
  6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
  7. Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
  8. Guru adalah seorang warga negara yang baik.
Kunandar, (2007:47) Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar dalam bukunya mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yakni :
1.      menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2.      menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3.      menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai,
4.      adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5.      memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
Kajian pendahuluan disekolah memperlihatkan bahwa diantara sekian faktor-faktor di atas, yang menjadi masalah adalah pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan. Masalah - masalah tersebut diperoleh dari observasi pada 3 sekolah di sekitar lingkungan penulis.
Pertama, pengalaman mengajar. Beberapa masalah pengalaman mengajar di sekolah- sekolah tersebut diindikasikan oleh hal-hal berikut : Secara umum, pengalaman guru di Indonesia masih kurang, hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Marlock, selaku Koordinator Lapangan Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI), mengatakan bahwa “Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran di SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.” (www.kompas.com: 26/08/2008)
Kedua, latar belakang pendidikan. Masalah-masalah yang terkait dengan latar belakang masalah diantaranya adalah : terkait dengan kualitas guru yang telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya kualitas seorang guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun sudah bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan sebelum mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi dengan yang belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi guru dinilai kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan juga menunjukkan kurangnya profesionalisme guru.Latar belakang pendidikan seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas atau pekerjaan. Sesuai denganpendapat Manullang (1994: 59), bahwa “Dalam menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right man on the right place akan lebihmendekati sasaran.

Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan membawa kepada buruknya profesionalisme mereka. Berikut ini alasan-alasan penting yang menunjukkan bagaimana peran pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman(1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru.Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar.Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26)Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikansangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”
Penjelasan-penjelasan di atas telah memperlihatkan bagaimana pentingnya faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru. Baik secara teoritis dan empiris menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan diperhatikan dengan baik oleh pimpinan sekolah akan mendorong tingginya profesionalisme guru.

Alasan-alasan logis tersebut menjadi dasar yang kuat bagi peneliti untuk mengkaji hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.

Dengan adanya syarat sebagai guru yang profesional seperti, dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan masalah, dapat menggeneralisasi berbagai alternatif dalam memecahkan masalah, punya kepedulian kepada siswa dan teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk membantu siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus, diharapkan dapat meningkatkan 35% profesionalisme guru di sekolah.
Namun demikian, masih kurangnya pengalaman guru dan masih adanya guru yang tingkat pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan kurangnya tingkat profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu Tenaga Kependudukan Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional, kompetensi guru profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi kompetensi guru tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan tidak memenuhi kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi guru dimasuki oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga (www.tempointeraktif.com: 05/01/2006).”
Faktor yang mengakibatkan rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesii guru yakni kelemahan yang terdapat pada diri guru itu sendiri, diantaranya rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme mereka. Penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran masih berada di bawah standar (Syah, 1988).
Berdasarkan paparan di atas dapat dimaknai “bahwa telah terjadi kesenjangan profesionalisme guru di sekolah”. Hal ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga akan menurunya tingkat prestasi siswa, dan dapat berdamapk pada munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar (2007:46-47), Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

Bertolak dari dasar teori di atas, dalam penelitian ini sebagai faktor penduga penciptaan profesionalisme guru, sengaja dipilih faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan, dengan berbagai alasan yang cukup mendasar.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Suwaluyo (1988: 26) menyatakan bahwa pengalaman mengajar adalahmasa kerja yang dapat dilihat dari bayaknya tahun mengajar, dan ditegaskanpula bahwa pengalaman mengajar merupakan penghayatan pada suatu objektersebut. Ketika guru memasuki dunia kerja pasti ia akan dihadapkan padaberbagai keadaan baik yang mendukung ataupun yang menghambat prosesbelajar mengajar.Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Darwin (2002: 34), juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”

Bertolak dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut dalam judul penelitian :“Profesionalisme Guru dalam Perspektif Pengalaman Mengajar dan Latar Belakang Pendidika

B.     Identifikasi Masalah
Relevan dengan latar belakang tersebut, maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut :
1.      Kajian-kajian teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalisme guru di pengaruhi oleh masalah-masalah : latar belakang pendidikan, Pengalaman mengajar Peka terhadap peraturan dan pembaharuan, kepribadian (adil, jujur, dan objektif), kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, keuletan dan ketekunan dalam bekerja, dan motifasi yang tinggi.
2.      Pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terpilih sebagai faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru, karena memilikki masalah urgen sebagai berikut :
a.       Banyaknya guru yang kulang berpengalaman dalan berkependidikan, masih menjadi masalah dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang kesulitan dalam mengelola kelas, monoton dalam
penggunaan metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih kurang.
b.      Pentingnya latar belakang pendidikan untuk penjadi guru yang berkompeten dalam meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalisme guru dalam meningkatkan mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa sekolah masih ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting memenuhi jam mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya itu bisa ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran belum baik, dan profesionalisme guru masih kurang.
3.      Rendahnya profesionalisme guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak terteliti.

C.     Batasan dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan guru saja yang terpilih menjadi faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru. Untuk memperjelas hal tersebut, variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi sebagaiberikut :
1.      Apakah pengalaman mengajar berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
2.      Apakah latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
3.      Apakah pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?

D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni ;
1.      Menguji pengaruh pengalam mengajar terhadap profesionalisme guru
2.      Menguji pengaruh latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
3.      Menguji pengaruh pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut ;
1.      Membuktikan wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
2.      Kontribusi dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai tempat penellitian dilakukan.
3.      Referensi bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.



BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Kajian Pustaka
Darwin (2002: 30-31), “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain”.
Martinis (2006: 2), Guru profesional di samping mereka berkualifikasi akademis juga dituntut memiliki kompetensi, artinya memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya
Kunandar, (Guru Profesional, h. 46) mengemukakan profesi guru adalahkeahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, danpelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhikebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti gurusebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dankewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakanpekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna Guru yang profesional memiliki kriteria-kriteria khusus yang membedakannya dengan guru yang tidak profesional.
Suharsimi Arikunto (1998: 17) menyatakan bahwa pengalamanmengajar maksudnya bukan hanya terbatas pada banyaknya tahun mengajartetapi juga materi bidang studi yang diajarkan. Seorang guru dituntutmempunyai kompetensi profesional yang mencakup penguasaan terhadappembelajaran dan penguasaan materi pelajaran. Guru harus mampu menyesuaikan materi pelajaran dengan lingkungan siswa, sehingga materi pelajaran benar-benar aktual dan di hadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Guru yang mempunyai pengalaman yang baik akan lebih mudah melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Menurut Christina (1991: 15-16) keuntungan yang banyak diperoleh guru dari pengalaman mengajarnya adalah:
1.      Mampu menyusun persiapan mengajar dengan tepat dan cepat.
2.      Mudah beradptasi dengan siswa.
3.      Responsive terhadap masalah-masalah pengajaran terutama yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar.
4.      Fleksibel dalam menggunakan media pembelajaran.
5.      Mudah memacu siswa untuk berprestasi.
Banyak hal yang diperoleh guru melalui pengalaman-pengalamannya, baik yang berhubungan dengan kemampuan mengajarnya maupun yang berhubungan dengan penguasaan guru terhadap materi pelajaran. Pengalaman seorang guru tidak hanya diperoleh ketika ia berada di dalam kelas saja, namun pengalaman itu diperoleh melalui kegiatan-kegiatan di luar kelas yang dapat mendukung kemampuannya. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran, dan kegiatan karya ilmiah.
Djohar (2006: 55), mengungkapkan bahwa guru yang profesional harus memiliki kompetensi, untuk itu para guru hendaklah:
a.       Memiliki hakekat ilmu yang diajarkan
b.      Memahami kiat pembelajaran ilmunya
c.       Memiliki kemampuan strukturisasi ilmunya menjadi peta konsep dasar
d.      Memiliki kemampuan meneliti dan menyediakan sumber belajarnya
e.       Memiliki kemampuan menyediakan media belajarnya
f.       Memiliki kemampuan organisasi ilmunya menjadi bahan ajar
g.      Memiliki kemampuan memaknakan kurikulum menjadi objek dan persoalan belajar
h.      Memiliki kemampuan menentukan evaluasi hasil pembelajaran ilmunya.
Dengan demikian dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya profesionalisme guru adalah kemampuan penguasaan seorang guru terhadap bidang studi yang diajarkan, tingkat pemahamannya terhadap peserta didik, kemampuan penguasaan pembelajaran yang mendidik, dan mampu mengembangkan kepribadian serta keprofesionalannya. Bahwa pengalaman mengajar dan latar belang pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru. Ukuran guru yang profesional mengacu kepada standar kompetensi guru yang telah ditetapkan pemerintah.Guru dengan tingkat pendidikan tinggi tentu akan berbeda dengan guruyang berpendidikan rendah, baik dalam hal kompeensi maupun bersikap yangmanakala dihadapkan pada suatu obyek. Jadi dapat dikatakan bahwa semakintinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya.

B.     Penelitian yang Relevan
Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya (Kunandar, Guru Profesional; hal. 46-47).
Menurut Andinta Erlinayanti dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Mengajar Dan Etos Kerja Guru Terhadap Kompetensi Profesional Guru Pkn Di Sma Negeri Di Kabupaten Magelang tahun 2012 menyimpulkan bahwa  Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara latar belakang pendidikan guru terhadap kompetensi profesional guru PKn SMA Negeri di Kabupaten Magelang. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t pada analisis regresi ganda, dimana t-hitung = 2.516 ( sig = 0.023 < 0.05), berarti semakin tinggi latar belakang pendidikan guru maka semakin tinggi kompetensi profesionalnya dan sebaliknya semakin rendah latar belakang pendidikan guru maka semakin rendah kompetensi profesionalnya. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pengalaman mengajar terhadap kompetensi profesional guru PKn SMA Negeri di Kabupaten Magelang. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t pada analisis regresi ganda, dimana t-hitung = 0.585 ( sig = 0.013 < 0.05), berarti semakin tinggi pengalaman mengajar maka semakin tinggi kompetensi profesionalnya dan sebaliknya semakin rendah pengalaman mengajar maka semakin rendah kompetensi profesionalnya”. Dengan adanya penelitian ini peneliti semakin yakin untuk membuktikan sekali lagi dengan penelitian ini bahwa sangat pentingnya pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan sangat penting dalam menyeleksi pendidik yang profesional guna menunjang pendidikan di suatu sekolah yang lebih baik.
Menurut M Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001; Cet. Ke-10, hal 253. Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang bersangkutan.
Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara:
a)      Penilaian formatif
Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.
b)      Penilaian Sumatif
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.
Menurut Usep Setia Laksana dalam penelitian yang berjudul Hubungan Pelatihan, Pendidikan, dan Pengalaman mengajar tehadap Profesionalisme Guru tahun 2009, bahwa “terdapat hubungan positif antara pendidikan, pelatihan dan pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru bagi seorang guru adalah pendidikan pelatihan, pendidikan, dan pengalaman mengajar. Oleh karena itu guru profesional adalah orang yang memiliki kemempuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka guru-guru perlu pengembangan dan peningkatan ketrampilan melalui berbagai pelatihan. Hal ini juga akan mendukung penerapan kemampuan yang diperolah dari pendidikan formal, karena pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan salah satu fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang harus dilaksankan. Dengan pendidikan dan pelatihan guru berarti memberikan kesempatan pada guru untuk meningktkan kualitas kerjanya”.

C.     Kerangka Fikir
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.









Rounded Rectangle: Profesionalisme guru

Rounded Rectangle: Pengalaman mengajar



 



Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.  Latar belakang pendidikan juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30) “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2 kebawah.”








Rounded Rectangle: Latar Belakang Pendidikan


Rounded Rectangle: Pengalaman mengajar




 



Mengingat profesionalisme guru dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, maka dalam penelitian ini kedua hubungan tersebut akan diteliti baik secara parsial maupun simultan, dengan paradigm sebagai berikut :
 








Pengaruh pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
Keterangan :
X1 = pengalaman mengajar
X2 = latar belakang pendidikan
Y = profesionalisme guru
1.      garis pengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru (hubungan parcial)
2.      garis latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru (hubungan parcial)
3.      garis pengaruh antara pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru


D.    Hipotesis
Mengingat adanya tiga hubungan seperti diatas, pada kerangka konseptual maka hipotesis dalam penelitian ini juga terdapat tiga poin, diantaranya :
·         Hipotesis pertama       : pengalaman mengajar berpengaruh positif terhadap professionalisme guru
·         Hipotesis kedua          : latar belang pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru
·         Hipotesis ketiga          : pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru.

1 komentar: