Rabu, 04 April 2018

PENELITIAN ILMIAH


POLA  PENGEMBANGAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI PADA SISWA SMA NEGERI 7 SURAKARTA 




MAKALAH
SEMINAR PENDIDIKAN

Di Susun Oleh :
Choriah Hanayati              A210140137


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018


BAB I
PENDAHULIAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan memiliki peran penting dalam upaya peningkatan sumber daya manusia ke arah yang lebih baik. Pendidikan diharapkan mampu membentuk peserta didik yang dapat mengembangkan sikap, keterampilan dan kecerdasan intelektualnya agar menjadi manusia yang terampil, cerdas, serta berakhlak mulia.
Seperti yang tercantum dalam undang-undang No 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan Bab II pasal 3, menyatakan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selain itu pendidikan juga berperan dalam perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa. Personil yang berhubungan langsung dengan tugas penyelenggaraan pendidikan adalah kepala sekolah dan guru. Dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya, guru sebagai profesi yang menyandang persyaratan tertentu
Guru harus memiliki empat syarat yang harus dikuasai yaitu penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun kemauan  dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Guru harus bisa menyesuaikan model dan bahan ajar agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Adapun kualitas pendidikan di Indonesia Menurut Soedijarto (1991, hlm.56) menyebutkan bahwa :
Rendahnya mutu atau kualitas pendidikan disebabkan oleh karena pemberian peranan yang kurang proporsional terhadap sekolah, kurang memadainya perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan sistem kurikulum, dan penggunaan prestasi hasil belajar secara kognitif sebagai satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan, juga disebabkan karena sistem evaluasi tidak secara berencana didudukkan sebagai alat pendidikan dan bagian terpadu dari system kurikulum.

Pengembangan kurikulum merupakan proses yang kompleks yang melibatkan beberapa komponen yang saling terkait terutama proses pembelajaran di kelas hingga saat ini masih juga ditemukan pengajar yang memposisikan siswa sebagai objek belajar, bukan sebagai individu yang harus dikembangkan potensi yang dimilikinya.
Saat ini pendidikan di indonesia dinilai buruk karena di anggap guru kurang memperhartikan siswa serta pengembangan terhadap nilai-nilai yang harus dikuasai oleh siswa. Pendidikan harus mendapat perubahan yang dapat mencetak manusia yang memiliki kepribadian. Dengan rendahnya nilai mutu pendidikan saat ini maka, perlu adanya perubahan dan pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan karena adanya beberapa kelemahan yang di temukan dalam KTSP 2006.
Kurikulum memegang peranan yang sangat penting. Menurut Mulyasa (2013, hlm.59) mengemukakan : “Kurikulum bersifat dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan agar dapat mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman”. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum harus selalu dilakukan perubahan dan selalu ada perkembangan agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Maka dari itu perlu adanya pengembangan Kurikulum 2013, yang pada saat ini difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa gabungan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya.
Sejalan dengan perubahan tesebut, maka guru harus dapat menemukan model dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat bagi semua siswa. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna untuk mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara atau model mengajar yang baik dan mampu memilih Model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep kurikulum 2013.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan hasil belajar siswa. Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-bersama terlibat aktif dalam proses pembelajaran, dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Pemahaman ini memerlukan minat dan rasa ingin tahu. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai rasa ingin tahu dalam kegiatan belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk rasa ingin tahu sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA N 7 Surakarta, guru ekonomi akuntansi menggunakan strategi mengajar yang dapat memecahkan masalah pembelajaran dan melibatkan peran aktif siswa yaitu model Discovry Learning adalah pembelajaran penemuan (discovery) diharapkan dengan adanya model pembelajaran ini dapat meningkatkan sikap tanggung jawab dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran ini mengkondisikan siswa untuk terbiasa menemukan, mencari, mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran.
Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Maier dalam Winddiharto (2004, hlm.52) yang menyatakan bahwa : “Apa yang ditemukan, jalan, atau proses semata-mata ditemukan oleh siswa sendiri”. Sedangkan menurut Budiningsih (2005, hlm.43) mengemukakan bahwa : “Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Discovery Learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan masalah sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dari itu, pembelajaran Discovery Learning juga bisa diterapkan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi, dalam peneliti ini juga di rasa cocok dalam kurikulum yang sedang digunakan yakni Kurikulum 2013.

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana pengelolaan pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7 Surakarta
2.      Apakah di SMA N 7 Surakarta menggunakan pembelajaran akuntansi dengan model pembelajaran Discovery Learning ?
3.      Bagaimana evaluasi pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7 Surakarta ?
4.      Bagaimana efektifitas pembelajaran akuntansi di SMA N 7 Surakarta ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengelolaan pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7 Surakarta
2.      Untuk mengetahui model pembelajaran akuntansi dengan model discovery learning di SMA N 7 Surakarta
3.      Untuk mengetahui evaluasi pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7 Surakarta
4.      Untuk mengetahui tingkat efektifitas pembelajaran akuntansi di SMA N 7 Surakarta

D.    Manfaat
1.      Manfaat bagi peneliti
Sebagai bahan kajian belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan kualitas pendidikan pada akhirnya.
2.      Manfaat Praktis
Dapat menambah referensi dalam pengetahuaan tentang kurikulum 2013 bagi penulis dan pembaca pada umumnya



BAB II
PEMBAHASAN

A.      GAMBARAN UMUM SEKOLAH
SMA Negeri 7 Surakarta berdiri pada tahun 1984 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 0558/1984 tertanggal 20 November 1984. Untuk sementara kegiatan belajar mengajar masih menempati gedung SMA Negeri 3 Surakarta, di mana siswanya mendapat giliran masuk siang.
Berdasarkan Keputusan Mendikbud RI No.73019/C/KI.2/1985 Tanggal 2 Oktober 1985 SMA Negeri 7 membangun Gedung Sekolah Baru di Jl. Mr. Muhammad Yamin no. 79 Kalurahan Tipes Kecamatan Serengan Kota Surakarta, bekas Tempat Pemakaman Umum.
Mulai bulan Januari 2011, SMA Negeri 7 Surakarta menerapkan program Go Green School dengan melarang seluruh guru, karyawan dan murid untuk membawa kendaraan bermotor di lingkungan sekolah setiap hari Jumat pertama. Program yang baru pertama kali dicanangkan oleh sekolah di lingkungan Kota Surakarta ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota dan kelak menjadi pelopor bagi sekolah lain.
Pada awal tahun 2012 juga dimulai proyek pembangunan tempat parkir basement yang baru pertama kali ada di tingkat sekolah di lingkungan Kota Surakarta.
Saat ini SMA Negeri 7 Surakarta beralamat di Jalan Mr. Muhammad Yamin 79, Surakarta, Jawa Tengah. Nomor Telepon (0271) 798679. Status terakriditasi Amat Baik (A). Website SMA Negeri 7 Surakarta adalah http://www.sman7-slo.sch.id/. Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Surakarta adalah Dra. Adkha Dewi Gayatri, M.Pd., M.M. Ketua Komite dr. Pudjo Pramono, Sp.F.


Berikut Visi dan Misi dari SMA Negeri 7 Surakarta
VISI:
“Unggul Dalam Prestasi, Berlandaskan IMTAQ, Berwawasan Global dan Berbudaya Ramah Lingkungan”.
MISI:
1.      Mewujudkan  sistem pengelolaan pendidikan yang partisipatif, transparan, efektif dan akuntabel
2.      Terwujudnya kualitas pembelajaran yang efektif dan efisien dalam konteks penguatan iman dan taqwa, budi pekerti luhur, penguasaan IPTEK
3.      Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan beretika sehingga menjadi sumber kearifan dan kebijakan dalam bertindak
4.      Mendorong dan membantu mengembangkan potensi siswa sehingga mampu bersikap mandiri, disiplin dan bertanggungjawab, meraih prestasi terbaik serta    budi pekerti yang luhur didasari iman dan taqwa serta  berwawasan global
5.      Mewujudkan  keluaran pendidikan yang bermutu, mempunyai  prestasi akademik dan non akademik
6.      Menumbuhkembangkan kesadaran warga sekolah akan pentingnya kelestarian alam dan nilai-nilai budaya ramah lingkungan.
7.      Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, asri, dan nyaman.

Fasilitas yang dimiliki SMA Negeri 7 Surakarta diantaranya adalah :
1.      30 ruang kelas yang di setiap ruangan memiliki LCD Proyektor
2.      Tersedianya laboratorium yang lengkap diantaranya : Lab. Komputer, Multimedia, Bahasa, IPS, Kimia, Fisika, Biologi.
3.      Tersedianya masjid
4.      Aula Sekolah
5.      Perpustakaan cukup memadai
6.      Tempat Parkir di Basement yang merupakan satu-satunya disolo yang memiliki parkiran di Basement
7.      Ruang Ekstrakulikuler untuk mengembangkan softskill siswa
8.      Tersedianya hot spot wifii di seluruh area sekolah
9.      Ruang staf dan guru yang memadai

B.     Kurikulum, Model Pembelajaran, RPP yang digunakan dan Strategi Pembelajaran
1.      Kurikulum
Kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 7 Surakarta, yaitu Kurikulum 2013. Kewajiban guru dalam melaksanakan kurikulum di dalam SMA Negeri dan sebelum memutuskan suatu kurukulum yang dijalankan yaitu dengan mengkajinya terlebih dahulu. Berikut pembagian penggunaan kurikulum di SMA Negeri 7 Surakarta yang sudah terlaksana :
1.      Pelaksanaan kurikulum KTSP ( Kelas XII )
2.      Pelaksanaan kurikulum 2013 ( Kelas X dan XI)
3.      Melibatkan Tim Pengembang Kurikulum dalam menyusun Kurikulum KTSP
4.      Penyusunan Struktur Kurikulum , R10 dan Jadwal Pelajaran
5.      Pengaturan Beban Belajar
6.      Penentun KKM ( mengacu Permendikbud 104 tahun 2014)
7.      Penyusunan Kalender Pendidikan
8.      Mata Pelajaran Muatan local
9.      Kegiatan Ekstrakurikuler
10.  Pengembangan Silabus  berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi
11.  Penyusunan Prota, Promes
12.  Pemetaan  SK/KD
13.  Pemetaan  KI/KD


2.      Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang digunakan oleh bapak Irwan Taufik, SE (guru ekonomi akuntansi SMA Negeri 7 Surakarta) menggunakan : Metode pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri dari pengalaman siswa.
Discovery ialah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip, proses mental yang dimaksud antara lain : mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan,   menjelaskan, mengukur,membuat kesimpulan dan sebagainya.
Dalam proses metode ini guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mengarah pada konsep, dalil, prosedur dan semacamnya. Siswa harus dapat menemukan materi dan memahaminya sesuia dengan arahan guru.

3.      Evaluasi Pembelajaran
Pemahaman siswa saat pelajaran dapat dilihat atau dapat di ukur secara statis dengan menggunakan evaluasi pembelajaran. Bapak Irwan Taufik, SE dalam mengukur pemahaman siswanya akan mengevaluasi dengan memberikan tugas sesuai materi yang di pelajari dan setiap akhir materi bapak Irwan Taufik, SE ini mengadakan ulangan harian.
Pengukuran pemahaman siswa dengan pemberian tugas dan ulangan setiap selesainya suatu materi pembelajaran. Pemberian tugas di lakukan secara kelompok sebelum memasuki materi baru. Sehingga siswa mampu memahami materi sebelum guru memberikan penjelasan yang sesuai. Pengadaan ulangan setiap akhir materi dengan menggunakan soal pilihan ganda dan esay.
Hasil tugas dan ulangan tersebut akan menggambarkan tingkat pemaham siswa pada materi. Jika tingkat pemahaman siswa kurang dari target yang telah ditentukan, maka guru akan memberikan ulasan materi kepada siswa sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya.

4.      Tingkat Efektifitas Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi Discovery Learning dapat meningkatkan keaktifan belajar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terjadinya peningkatan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui model pembelajaran Discovery Learning.
Hal ini dapat dilihat dari:
a.       Keaktifan belajar siswa yang turut serta dalam melaksanakan tugas belajaranya.
b.      Keaktifan belajar siswa yang bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.
c.       Keaktifan belajar siswa yang berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
d.      Keaktifan belajar siswa yang melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
e.       Keaktifan belajar siswa yang menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.



BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Pengelolaan pembelajaran di SMA N 7 Surakarta sudah menggunakan kurikulum 2013. Pengelolaan yang yang sudah sesuai secara administrasi juga pengaplikasian saat pembelajaran
Penggunaan model pembelajaran Discovery Learning ini sangat efektif dalam penyampain materi. Secara garis besar model ini sangat berhasil sesuai hasil evaluasi pembelajaran yang diadakan.
Hasil evaluasi pembelajaran yang di gunakan adalah pemberian tugas dan ulangan setiap materi selesai diberikan. Penggunaan model pembelajaran discovery learning ini sangat efektif untuk membuat siswa paham dengan materi secara keseluruhan.

B.      SARAN
Sebaiknya guru di SMA Negeri 7 Surakarta pemakaian model pembelajaran lebih bervariatif, supaya siswa dapat lebih berantusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar