POLA PENGEMBANGAN MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM
MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI PADA SISWA SMA NEGERI 7 SURAKARTA
MAKALAH
SEMINAR PENDIDIKAN
Di
Susun Oleh :
Choriah Hanayati A210140137
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULIAN
A.
LATAR BELAKANG
Pendidikan memiliki peran penting dalam upaya
peningkatan sumber daya manusia ke arah yang lebih baik. Pendidikan diharapkan
mampu membentuk peserta didik yang dapat mengembangkan sikap, keterampilan dan
kecerdasan intelektualnya agar menjadi manusia yang terampil, cerdas, serta
berakhlak mulia.
Seperti yang tercantum dalam undang-undang No
20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan Bab II pasal 3, menyatakan
bahwa :
Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Selain itu pendidikan juga berperan dalam
perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa. Personil yang berhubungan langsung
dengan tugas penyelenggaraan pendidikan adalah kepala sekolah dan guru. Dalam
pelaksanaan fungsi dan tugasnya, guru sebagai profesi yang menyandang
persyaratan tertentu
Guru harus memiliki empat syarat yang harus
dikuasai yaitu penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan
pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk
melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang
berkembang dan bersifat dinamis. Perubahan paradigma pola mengajar guru yang
pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi
kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai
fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru
dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan
guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan,
membangun kemauan dan mengembangkan
kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Guru harus bisa menyesuaikan model dan bahan
ajar agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Adapun
kualitas pendidikan di Indonesia Menurut Soedijarto (1991, hlm.56) menyebutkan
bahwa :
Rendahnya
mutu atau kualitas pendidikan disebabkan oleh karena pemberian peranan yang
kurang proporsional terhadap sekolah, kurang memadainya perencanaan,
pelaksanaan, dan pengelolaan sistem kurikulum, dan penggunaan prestasi hasil
belajar secara kognitif sebagai satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan,
juga disebabkan karena sistem evaluasi tidak secara berencana didudukkan
sebagai alat pendidikan dan bagian terpadu dari system kurikulum.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang
kompleks yang melibatkan beberapa komponen yang saling terkait terutama proses
pembelajaran di kelas hingga saat ini masih juga ditemukan pengajar yang
memposisikan siswa sebagai objek belajar, bukan sebagai individu yang harus
dikembangkan potensi yang dimilikinya.
Saat ini pendidikan di indonesia dinilai buruk
karena di anggap guru kurang memperhartikan siswa serta pengembangan terhadap
nilai-nilai yang harus dikuasai
oleh siswa. Pendidikan harus mendapat perubahan yang dapat mencetak manusia
yang memiliki kepribadian. Dengan rendahnya nilai mutu pendidikan saat ini
maka, perlu adanya perubahan dan pengembangan kurikulum
tingkat satuan pendidikan karena adanya beberapa kelemahan yang di temukan
dalam KTSP 2006.
Kurikulum memegang peranan yang sangat penting.
Menurut Mulyasa (2013, hlm.59) mengemukakan : “Kurikulum bersifat dinamis serta
harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan agar dapat mengikuti
perkembangan dan tuntutan zaman”. Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan
bahwa kurikulum harus selalu dilakukan perubahan dan selalu ada perkembangan
agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Maka dari itu perlu adanya
pengembangan Kurikulum 2013, yang pada saat ini difokuskan pada pembentukan
kompetensi dan karakter peserta didik, berupa gabungan dari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud
pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya.
Sejalan dengan perubahan tesebut, maka guru
harus dapat menemukan model dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat
bagi semua siswa. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi
lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan
membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna untuk mencapai tujuan pendidikan
secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara
atau model mengajar yang baik dan mampu memilih Model pembelajaran yang tepat
dan sesuai dengan konsep-konsep kurikulum 2013.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran salah satunya adalah dengan memilih
strategi atau cara dalam menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh
peningkatan hasil belajar siswa. Misalnya dengan membimbing siswa untuk
bersama-bersama terlibat aktif dalam proses pembelajaran, dan mampu membantu
siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Pemahaman ini memerlukan
minat dan rasa ingin tahu. Tanpa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak
mempunyai rasa ingin tahu dalam kegiatan belajar. Untuk itu, guru harus
memberikan suntikan dalam bentuk rasa ingin tahu sehingga dengan bantuan itu
anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA N 7
Surakarta, guru ekonomi akuntansi menggunakan strategi mengajar yang dapat
memecahkan masalah pembelajaran dan melibatkan peran aktif siswa yaitu model Discovry
Learning adalah pembelajaran penemuan (discovery) diharapkan dengan
adanya model pembelajaran ini dapat meningkatkan sikap tanggung jawab dan
hasil belajar siswa. Model pembelajaran ini mengkondisikan siswa untuk terbiasa
menemukan, mencari, mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran.
Metode Discovery Learning adalah teori
belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajran yang terjadi bila pelajar
tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan
mengorganisasi sendiri. Hal ini
sejalan dengan pendapat Maier dalam Winddiharto (2004, hlm.52) yang menyatakan
bahwa : “Apa yang ditemukan, jalan, atau proses semata-mata
ditemukan oleh siswa sendiri”. Sedangkan menurut Budiningsih (2005, hlm.43)
mengemukakan bahwa : “Model Discovery Learning adalah memahami konsep,
arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai pada suatu
kesimpulan”.
Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran Discovery Learning adalah suatu model
untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri,
menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan,
tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa
belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan masalah sendiri problem yang
dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. Maka
dari itu, pembelajaran Discovery Learning juga bisa diterapkan untuk
mengatasi masalah yang sedang dihadapi, dalam peneliti ini juga di rasa cocok
dalam kurikulum yang sedang digunakan yakni Kurikulum 2013.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengelolaan pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7
Surakarta
2. Apakah di SMA N 7 Surakarta menggunakan pembelajaran akuntansi dengan
model pembelajaran Discovery Learning ?
3. Bagaimana evaluasi pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA N 7
Surakarta ?
4. Bagaimana efektifitas pembelajaran akuntansi di SMA N 7 Surakarta ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengelolaan pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di
SMA N 7 Surakarta
2. Untuk mengetahui model pembelajaran akuntansi dengan model discovery
learning di SMA N 7 Surakarta
3. Untuk mengetahui evaluasi pembelajaran akuntansi kurikulum 2013 di SMA
N 7 Surakarta
4. Untuk mengetahui tingkat efektifitas pembelajaran akuntansi di SMA N 7
Surakarta
D. Manfaat
1. Manfaat bagi peneliti
Sebagai bahan kajian
belajar dalam rangka meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan
kualitas pendidikan pada akhirnya.
2. Manfaat Praktis
Dapat menambah referensi dalam pengetahuaan tentang
kurikulum 2013 bagi penulis dan pembaca pada umumnya
BAB II
PEMBAHASAN
A. GAMBARAN
UMUM SEKOLAH
SMA Negeri 7 Surakarta berdiri pada tahun 1984
berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor : 0558/1984 tertanggal 20 November 1984. Untuk sementara kegiatan belajar
mengajar masih menempati gedung SMA Negeri 3 Surakarta, di mana siswanya
mendapat giliran masuk siang.
Berdasarkan Keputusan Mendikbud RI
No.73019/C/KI.2/1985 Tanggal 2 Oktober 1985 SMA Negeri 7 membangun Gedung
Sekolah Baru di Jl. Mr. Muhammad Yamin no. 79 Kalurahan Tipes Kecamatan
Serengan Kota Surakarta, bekas Tempat Pemakaman Umum.
Mulai bulan Januari 2011, SMA Negeri 7
Surakarta menerapkan program Go Green School dengan melarang seluruh guru,
karyawan dan murid untuk membawa kendaraan bermotor di lingkungan sekolah
setiap hari Jumat pertama. Program yang baru pertama kali dicanangkan oleh
sekolah di lingkungan Kota Surakarta ini mendapat apresiasi dari Pemerintah
Kota dan kelak menjadi pelopor bagi sekolah lain.
Pada awal tahun 2012 juga dimulai proyek
pembangunan tempat parkir basement yang baru pertama kali ada di tingkat
sekolah di lingkungan Kota Surakarta.
Saat ini SMA Negeri 7 Surakarta beralamat di
Jalan Mr. Muhammad Yamin 79, Surakarta, Jawa Tengah. Nomor Telepon (0271)
798679. Status terakriditasi Amat Baik (A). Website SMA Negeri 7 Surakarta
adalah http://www.sman7-slo.sch.id/. Kepala Sekolah
SMA Negeri 7 Surakarta adalah Dra. Adkha Dewi Gayatri, M.Pd., M.M. Ketua Komite
dr. Pudjo Pramono, Sp.F.
Berikut Visi dan Misi dari SMA Negeri 7
Surakarta
VISI:
“Unggul Dalam Prestasi, Berlandaskan IMTAQ,
Berwawasan Global dan Berbudaya Ramah Lingkungan”.
MISI:
1.
Mewujudkan sistem pengelolaan pendidikan yang
partisipatif, transparan, efektif dan akuntabel
2.
Terwujudnya kualitas pembelajaran
yang efektif dan efisien dalam konteks penguatan iman dan taqwa, budi pekerti
luhur, penguasaan IPTEK
3.
Menumbuhkan penghayatan terhadap
ajaran agama yang dianut dan beretika sehingga menjadi sumber kearifan dan kebijakan
dalam bertindak
4.
Mendorong dan membantu
mengembangkan potensi siswa sehingga mampu bersikap mandiri, disiplin dan
bertanggungjawab, meraih prestasi terbaik serta budi pekerti yang luhur didasari iman dan
taqwa serta berwawasan global
5.
Mewujudkan keluaran pendidikan yang bermutu,
mempunyai prestasi akademik dan non
akademik
6.
Menumbuhkembangkan kesadaran warga
sekolah akan pentingnya kelestarian alam dan nilai-nilai budaya ramah
lingkungan.
7.
Menciptakan lingkungan sekolah
yang bersih, sehat, asri, dan nyaman.
Fasilitas yang dimiliki SMA Negeri 7 Surakarta
diantaranya adalah :
1.
30 ruang kelas yang di setiap
ruangan memiliki LCD Proyektor
2.
Tersedianya laboratorium yang
lengkap diantaranya : Lab. Komputer, Multimedia, Bahasa, IPS, Kimia, Fisika,
Biologi.
3.
Tersedianya masjid
4.
Aula Sekolah
5.
Perpustakaan cukup memadai
6.
Tempat Parkir di Basement yang
merupakan satu-satunya disolo yang memiliki parkiran di Basement
7.
Ruang Ekstrakulikuler untuk
mengembangkan softskill siswa
8.
Tersedianya hot spot wifii di
seluruh area sekolah
9.
Ruang staf dan guru yang memadai
B. Kurikulum, Model Pembelajaran, RPP yang digunakan dan Strategi
Pembelajaran
1. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan di SMA Negeri 7
Surakarta, yaitu Kurikulum 2013. Kewajiban guru dalam melaksanakan kurikulum di
dalam SMA Negeri dan sebelum memutuskan suatu kurukulum yang dijalankan yaitu
dengan mengkajinya terlebih dahulu. Berikut pembagian penggunaan kurikulum di
SMA Negeri 7 Surakarta yang sudah terlaksana :
1.
Pelaksanaan kurikulum KTSP ( Kelas
XII )
2.
Pelaksanaan kurikulum 2013 ( Kelas
X dan XI)
3.
Melibatkan Tim Pengembang
Kurikulum dalam menyusun Kurikulum KTSP
4.
Penyusunan Struktur Kurikulum ,
R10 dan Jadwal Pelajaran
5.
Pengaturan Beban Belajar
6.
Penentun KKM ( mengacu
Permendikbud 104 tahun 2014)
7.
Penyusunan Kalender Pendidikan
8.
Mata Pelajaran Muatan local
9.
Kegiatan Ekstrakurikuler
10. Pengembangan Silabus berdasarkan
Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi
11. Penyusunan Prota, Promes
12. Pemetaan SK/KD
13. Pemetaan KI/KD
2. Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang digunakan oleh bapak
Irwan Taufik, SE (guru ekonomi
akuntansi SMA Negeri 7 Surakarta) menggunakan : Metode
pembelajaran discovery (penemuan) adalah metode mengajar yang mengatur
pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya
belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya
ditemukan sendiri dari pengalaman
siswa.
Discovery ialah proses mental dimana siswa
mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip, proses mental yang dimaksud antara lain :
mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur,membuat kesimpulan dan
sebagainya.
Dalam proses metode ini guru bertindak sebagai
pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mengarah pada konsep,
dalil, prosedur dan semacamnya. Siswa
harus dapat menemukan materi dan memahaminya sesuia dengan arahan guru.
3. Evaluasi Pembelajaran
Pemahaman siswa saat
pelajaran dapat dilihat atau dapat di ukur secara statis dengan menggunakan
evaluasi pembelajaran. Bapak Irwan Taufik, SE dalam mengukur pemahaman siswanya
akan mengevaluasi dengan memberikan tugas sesuai materi yang di pelajari dan
setiap akhir materi bapak Irwan Taufik, SE ini mengadakan ulangan harian.
Pengukuran pemahaman
siswa dengan pemberian tugas dan ulangan setiap selesainya suatu materi
pembelajaran. Pemberian tugas di lakukan secara kelompok sebelum memasuki
materi baru. Sehingga siswa mampu memahami materi sebelum guru memberikan
penjelasan yang sesuai. Pengadaan ulangan setiap akhir materi dengan
menggunakan soal pilihan ganda dan esay.
Hasil tugas dan ulangan
tersebut akan menggambarkan tingkat pemaham siswa pada materi. Jika tingkat
pemahaman siswa kurang dari target yang telah ditentukan, maka guru akan
memberikan ulasan materi kepada siswa sebelum melanjutkan ke materi
selanjutnya.
4. Tingkat Efektifitas Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi Discovery Learning dapat
meningkatkan keaktifan belajar, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa terjadinya peningkatan keaktifan belajar siswa
pada mata pelajaran ekonomi melalui model pembelajaran Discovery Learning.
Hal ini dapat dilihat
dari:
a.
Keaktifan
belajar siswa yang turut serta dalam melaksanakan tugas belajaranya.
b.
Keaktifan
belajar siswa yang bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak
memahami persoalan yang dihadapinya.
c.
Keaktifan
belajar siswa yang berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk
pemecahan masalah.
d.
Keaktifan
belajar siswa yang melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
e.
Keaktifan
belajar siswa yang menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pengelolaan pembelajaran di SMA N 7 Surakarta sudah menggunakan kurikulum 2013. Pengelolaan yang yang sudah
sesuai secara administrasi juga pengaplikasian saat pembelajaran
Penggunaan model pembelajaran Discovery
Learning ini sangat efektif dalam penyampain materi. Secara garis besar model
ini sangat berhasil sesuai hasil evaluasi pembelajaran yang diadakan.
Hasil evaluasi pembelajaran yang di gunakan
adalah pemberian tugas dan ulangan setiap materi selesai diberikan. Penggunaan
model pembelajaran discovery learning ini sangat efektif untuk membuat siswa
paham dengan materi secara keseluruhan.
B.
SARAN
Sebaiknya guru di SMA Negeri 7 Surakarta
pemakaian model pembelajaran lebih bervariatif, supaya siswa dapat lebih
berantusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar