PROFESIONALISME
GURU dalam PERSPEKTIF PENGALAMAN MENGAJAR dan LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Seorang profesional menjalankan
pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki
kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional
menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran.
Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akanterus-menerus
meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan
(Tilaar, 2002; 86).
Sedangkan Hamalik mengemukakan bahwa
guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru
dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah
berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar (Hamalik, 2006:27).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi
adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang
suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu
profesi dan profesional.
Berbicara tentang profesionalisme
guru, tidak lepas dari keahlian khusus yang dimiliki oleh seorang guru, yang
diperoleh baik melalui pendidikan profesional, (Soedijarto, 1997; 87)
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang,
seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan
menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategori
sebagai guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional,
mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai
pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya. Yamin, (2007:5-7)dalam
bukunya Proses Belajar Mengajar, guru profesional harus memiliki persyaratan,
yang meliputi;
- Memiliki bakat sebagai guru.
- Memiliki keahlian sebagai guru.
- Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
- Memiliki mental yang sehat.
- Berbadan sehat.
- Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
- Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
- Guru adalah seorang warga negara yang baik.
Kunandar, (2007:47) Menegaskan pendapat tersebut, Kunandar dalam
bukunya mengemukakan bahwa Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan
khusus, yakni :
1. menuntut adanya keterampilan
berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam,
2. menekankan pada suatu keahlian dalam
bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya,
3. menuntut adanya tingkat pendidikan
yang memadai,
4. adanya kepekaan terhadap dampak
kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya,
5. memungkinkan perkembangan sejalan
dengan dinamika kehidupan.
Kajian pendahuluan disekolah memperlihatkan bahwa diantara
sekian faktor-faktor di atas, yang menjadi masalah adalah pengalaman mengajar
dan latar belakang pendidikan. Masalah - masalah tersebut diperoleh dari
observasi pada 3 sekolah di sekitar lingkungan penulis.
Pertama,
pengalaman mengajar. Beberapa masalah pengalaman mengajar di sekolah- sekolah
tersebut diindikasikan oleh hal-hal berikut
:
Secara umum, pengalaman guru di Indonesia masih kurang, hal ini sebagaimana
yang diutarakan oleh Marlock, selaku Koordinator Lapangan Forum Peduli
Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3KI), mengatakan bahwa
“Pengalaman dan pengetahuan guru-guru sekolah menengah kejuruan atau SMK yang
bersentuhan dengan dunia usaha dan industri masih minim. Padahal, pembelajaran
di SMK yang mengutamakan penguasaan kompetensi dan keterampilan itu membutuhkan
para pendidik yang memahami perkembangan di dunia luar sekolah.” (www.kompas.com:
26/08/2008)
Kedua, latar belakang pendidikan. Masalah-masalah
yang terkait dengan latar belakang masalah diantaranya adalah : terkait dengan
kualitas guru yang telah bersertifikasi, sertifikasi guru bukan jaminan baiknya
kualitas seorang guru, masih banyak guru yang bekerja dengan seenaknya meskipun
sudah bersetifikasi. selain itu guru sertifikasi tidak membuat persiapan sebelum
mengajar, baik persiapan harian maupun pekerjaan lainnya, apalagi dengan yang
belum bersertifikasi. (www.kompas.com: 27/09/2010). sertifikasi guru dinilai
kurang mampu meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini mencerminkan kurangnya
rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh para guru dan juga menunjukkan kurangnya
profesionalisme guru.Latar belakang pendidikan
seseorang sedikit banyak akan menentukankeberhasilannya dalam menjalankan tugas
atau pekerjaan. Sesuai denganpendapat Manullang (1994: 59), bahwa “Dalam
menyeleksi dan menempatkankaryawan dalam suatu organisasi harus
mempertimbangkan pendidikan calonkaryawan bersangkutan, sehingga the right
man on the right place akan lebihmendekati sasaran.
Apabila salah satu faktor-faktor profesionalisme
guru tidak terpenuhi, maka akan berakibat pada perilaku guru yang akhirnya akan
membawa kepada buruknya profesionalisme mereka. Berikut ini alasan-alasan
penting yang menunjukkan bagaimana peran pengalaman mengajar dan latar belakang
pendidikan terhadap profesionalisme guru.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A.
Soelaiman(1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan lingkungan,
sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang lingkungan
tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami oleh guru
selama menjalankan tugasnya sebagai guru.Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal
yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya,
sehingga mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang
keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru
yang baik, karena keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar
mengajar kurang didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi
lebih banyak didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia
mengajar. Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar
tersebut akan dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar.Ahmad Barizi
(2009: 142) berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman
mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang
pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26)Latar belakang pendidikan
merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak,
semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin
tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan
menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan
wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar
seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan
latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung
pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan
banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran.Latar belakang pendidikan
juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini
dikarenakan latar belakang pendidikansangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya
kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30)
“Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru
terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan
tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip
pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan,
yaitu:
“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau
yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2
kebawah.”
Penjelasan-penjelasan di atas telah memperlihatkan
bagaimana pentingnya faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan
terhadap profesionalisme guru. Baik secara teoritis dan empiris menunjukkan
bahwa adanya hubungan yang erat antara pengalaman mengajar dan latar belakang
pendidikan dengan profesionlisme guru. Implikasinya, apabila pengalaman
mengajar dan latar belakang pendidikan diperhatikan dengan baik oleh pimpinan
sekolah akan mendorong tingginya profesionalisme guru.
Alasan-alasan logis tersebut menjadi dasar yang kuat
bagi peneliti untuk mengkaji hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya.
Dengan adanya syarat sebagai guru yang profesional
seperti, dalam menghadapi masalah selalu dapat mencari alternatif pemecahan
masalah, dapat menggeneralisasi berbagai alternatif dalam memecahkan masalah,
punya kepedulian kepada siswa dan teman sejawat, selalu menyediakan waktu dan
tenaga yang cukup untuk membantu siswa, selalu mempedulikan tugas pokok, dan
mempunyai kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara terus menerus,
diharapkan dapat meningkatkan 35% profesionalisme guru di sekolah.
Namun demikian, masih kurangnya pengalaman guru dan
masih adanya guru yang tingkat pendidikannya dibawah S1 dan D-IV, mengakibatkan
kurangnya tingkat profesionalisme guru di Indonesia, Direktur Jenderal Mutu
Tenaga Kependudukan Bapak Fasli Djalal menyatakan bahwa, secara nasional,
kompetensi guru profesional masih sangat kurang, penguasaan materi yang menjadi
kompetensi guru tidak mencapai 50%. Bapak Fasli Jalal juga mengatakan “Ini kan
tidak memenuhi kelayakan untuk mengajar. Ini semua karena selama ini profesi
guru dimasuki oleh tenaga-tenaga kelas dua dan kelas tiga
(www.tempointeraktif.com: 05/01/2006).”
Faktor yang mengakibatkan rendahnya pengakuan
masyarakat terhadap profesii guru yakni kelemahan yang terdapat pada diri guru
itu sendiri, diantaranya rendahnya tingkat kompetensi profesionalisme mereka.
Penguasaan guru terhadap materi dan metode pengajaran masih berada di bawah
standar (Syah, 1988).
Berdasarkan paparan di atas dapat dimaknai “bahwa
telah terjadi kesenjangan profesionalisme guru di sekolah”. Hal ini tentunya
tidak dapat dibiarkan berlarut-larut sehingga akan menurunya tingkat prestasi
siswa, dan dapat berdamapk pada munculnya konflik berkepanjangan.
Kunandar (2007:46-47),
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan
dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru
yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk
melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, dapat disimpulkan
bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah
orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang
kaya di bidangnya.
Bertolak dari dasar teori di atas, dalam penelitian
ini sebagai faktor penduga penciptaan profesionalisme guru, sengaja dipilih
faktor pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan, dengan berbagai
alasan yang cukup mendasar.
Pertama, pengalaman mengajar. Menurut Darwis A.
Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah proses mengadakan hubungan dengan
lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman adalah untuk mengerti tentang
lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru adalah apa yang telah dialami
oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai guru. Sumitro (2001: 70)
mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mereka harus
senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai pengalaman yang
banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena keterampilan
memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang didapatkan guru
melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak didasarkan pada
pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar. Pengalamanpengalaman
bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan dapat mempengaruhi
kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142) berpendapat bahwa “Latar
belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi
profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan pengajaran.
Kedua, latar belakang pendidikan. Ahmad Gazali (2012: 26) Latar belakang
pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional
atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka
diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar
belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal
ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan banyak
mempengaruhi profesionalisme mengajar seorang guru. Suwaluyo
(1988: 26) menyatakan bahwa pengalaman mengajar adalahmasa kerja yang dapat
dilihat dari bayaknya tahun mengajar, dan ditegaskanpula bahwa pengalaman
mengajar merupakan penghayatan pada suatu objektersebut. Ketika guru memasuki
dunia kerja pasti ia akan dihadapkan padaberbagai keadaan baik yang mendukung
ataupun yang menghambat prosesbelajar mengajar.Ahmad Barizi, (2009: 142)
berpendapat bahwa guru pemula dengan latar pendidikan keguruan lebih mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena dia sudah dibekali dengan
seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan
berlatar pendidikan keguruan akan banyak menemukan banyak masalah dalam
pembelajaran. Latar belakang pendidikan
juga dapat dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini
dikarenakan latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya
kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30)
“Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru
terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan
tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Darwin
(2002: 34), juga mengutip pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki
profesi tenaga kependidikan, yaitu:
“(1) Tenaga
profesional, berkualifikasi sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi D3 atau
yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional, berkualifikasi D2
kebawah.”
Bertolak
dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut
dalam judul penelitian :“Profesionalisme
Guru dalam Perspektif Pengalaman Mengajar dan Latar Belakang Pendidika
B. Identifikasi
Masalah
Relevan dengan latar belakang tersebut,
maka masalah-masalah yang teridentifikasi adalah sebagai berikut :
1. Kajian-kajian
teoritis memperlihatkan bahwa tinggi rendahnya tingkat profesionalisme guru di
pengaruhi oleh masalah-masalah : latar belakang pendidikan, Pengalaman mengajar
Peka terhadap peraturan dan pembaharuan, kepribadian (adil, jujur, dan
objektif), kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, keuletan dan ketekunan dalam
bekerja, dan motifasi yang tinggi.
2. Pengalaman
mengajar dan latar belakang pendidikan terpilih sebagai faktor yang
mempengaruhi profesionalisme guru, karena memilikki masalah urgen sebagai
berikut :
a. Banyaknya
guru yang kulang berpengalaman dalan berkependidikan, masih menjadi masalah
dalam proses mengajar di sekolah, seperti ; masih ada guru yang kesulitan dalam
mengelola kelas, monoton dalam
penggunaan
metode, sumber belajar dan media pembelajaran, pengalaman mengajar guru masih
kurang.
b. Pentingnya
latar belakang pendidikan untuk penjadi guru yang berkompeten dalam
meningkatkan presatasi siswa tetapi masih banyak guru yang menemukan
permasalahan seperti ; tingkat pendidikan terakhirnya belum mencapai D-IV atau
S1, sertifikasi guru belum berhasil mendorong profesionalisme guru dalam
meningkatkan mutu pendidikan, masih ada sebagian guru yang kesulitan merancang
perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan inovatif, dibeberapa
sekolah masih ada guru yang melaksanakan tugas dengan ala kadarnya yang penting
memenuhi jam mengajar, tanpa mempedulikan apakah pelajaran yang disampaikannya
itu bisa ditangkap dan mampu mendidik para murid, evaluasi hasil pembelajaran
belum baik, dan profesionalisme guru masih kurang.
3. Rendahnya
profesionalisme guru disebabkan keluar dari faktor penelitian atau tidak
terteliti.
C. Batasan
dan Rumusan Masalah
Seperti terlihat
dalam identifikasi masalah banyak kemungkinan hubungan yang dapat dipilih
sebagai kajian penelitian. Namun, tidak semua hubungan dikaji, tetapi hanya
pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan guru saja yang terpilih
menjadi faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru. Untuk memperjelas hal
tersebut, variabel-variabel dan hubungan-hubungan dalam penelitian ini dibatasi
sebagaiberikut :
1. Apakah
pengalaman mengajar berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
2. Apakah
latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat profesionalisme guru?
3. Apakah
pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap tingkat
profesionalisme guru?
D. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
Tujuan
penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di atas, yakni ;
1. Menguji
pengaruh pengalam mengajar terhadap profesionalisme guru
2. Menguji
pengaruh latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
3. Menguji
pengaruh pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap
profesionalisme guru
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut ;
1. Membuktikan
wacana teoritis dalam ilmu perilaku organisasi dan manajemen sumber daya
manusia.
2. Kontribusi
dan masukan dalam praktek pengelolaan sumber daya manusia bagi sekolah sebagai
tempat penellitian dilakukan.
3. Referensi
bagi peneliti berikutnya dalam mengkaji masalah yang sama di masa mendatang.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Kajian
Pustaka
Darwin
(2002: 30-31), “Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat
dari dua perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan dan kedua,
penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola
siswa, melakukan tugas bimbingan dan lain-lain”.
Martinis
(2006: 2), Guru profesional di samping mereka berkualifikasi akademis juga
dituntut memiliki kompetensi, artinya memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai dalam melaksanakan tugas
keprofesionalannya
Kunandar,
(Guru Profesional, h. 46) mengemukakan profesi guru adalahkeahlian dan
kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, danpelatihan yang
ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhikebutuhan hidup yang
bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti gurusebagai pekerjaan yang
mensyaratkan kompetensi (keahlian dankewenangan) dalam pendidikan dan
pembelajaran agar dapat melaksanakanpekerjaan tersebut secara efektif dan
efisien serta berhasil guna Guru yang profesional memiliki kriteria-kriteria
khusus yang membedakannya dengan guru yang tidak profesional.
Suharsimi Arikunto (1998: 17) menyatakan bahwa
pengalamanmengajar maksudnya bukan hanya terbatas pada banyaknya tahun
mengajartetapi juga materi bidang studi yang diajarkan. Seorang guru
dituntutmempunyai kompetensi profesional yang mencakup penguasaan
terhadappembelajaran dan penguasaan materi pelajaran. Guru harus mampu
menyesuaikan materi pelajaran dengan lingkungan siswa, sehingga materi
pelajaran benar-benar aktual dan di hadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari
siswa.
Guru yang mempunyai pengalaman yang baik akan lebih mudah
melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Menurut Christina (1991: 15-16)
keuntungan yang banyak diperoleh guru dari pengalaman mengajarnya adalah:
1.
Mampu menyusun persiapan
mengajar dengan tepat dan cepat.
2.
Mudah beradptasi dengan
siswa.
3.
Responsive terhadap
masalah-masalah pengajaran terutama yang berkaitan dengan proses
belajar-mengajar.
4.
Fleksibel dalam
menggunakan media pembelajaran.
5.
Mudah memacu siswa untuk
berprestasi.
Banyak hal yang diperoleh guru melalui pengalaman-pengalamannya,
baik yang berhubungan dengan kemampuan mengajarnya maupun yang berhubungan
dengan penguasaan guru terhadap materi pelajaran. Pengalaman seorang guru tidak
hanya diperoleh ketika ia berada di dalam kelas saja, namun pengalaman itu
diperoleh melalui kegiatan-kegiatan di luar kelas yang dapat mendukung
kemampuannya. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui
seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran,
dan kegiatan karya ilmiah.
Djohar
(2006: 55), mengungkapkan bahwa guru yang profesional harus memiliki
kompetensi, untuk itu para guru hendaklah:
a. Memiliki
hakekat ilmu yang diajarkan
b. Memahami
kiat pembelajaran ilmunya
c. Memiliki
kemampuan strukturisasi ilmunya menjadi peta konsep dasar
d. Memiliki
kemampuan meneliti dan menyediakan sumber belajarnya
e. Memiliki
kemampuan menyediakan media belajarnya
f. Memiliki
kemampuan organisasi ilmunya menjadi bahan ajar
g. Memiliki
kemampuan memaknakan kurikulum menjadi objek dan persoalan belajar
h. Memiliki
kemampuan menentukan evaluasi hasil pembelajaran ilmunya.
Dengan
demikian dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya
profesionalisme guru adalah kemampuan penguasaan seorang guru terhadap bidang
studi yang diajarkan, tingkat pemahamannya terhadap peserta didik, kemampuan
penguasaan pembelajaran yang mendidik, dan mampu mengembangkan kepribadian
serta keprofesionalannya. Bahwa pengalaman mengajar dan latar belang pendidikan
berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru. Ukuran guru yang profesional
mengacu kepada standar kompetensi guru yang telah ditetapkan pemerintah.Guru dengan tingkat pendidikan tinggi tentu akan berbeda
dengan guruyang berpendidikan rendah, baik dalam hal kompeensi maupun bersikap
yangmanakala dihadapkan pada suatu obyek. Jadi dapat dikatakan bahwa
semakintinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat
profesionalismenya.
B. Penelitian
yang Relevan
Guru yang
profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki
pengalaman yang kaya di bidangnya (Kunandar, Guru Profesional; hal.
46-47).
Menurut Andinta Erlinayanti dalam penelitiannya yang
berjudul Pengaruh Latar Belakang
Pendidikan, Pengalaman Mengajar Dan Etos Kerja Guru Terhadap Kompetensi Profesional
Guru Pkn Di Sma Negeri Di Kabupaten Magelang tahun 2012 menyimpulkan
bahwa “Terdapat pengaruh yang
positif dan signifikan antara latar belakang pendidikan guru terhadap
kompetensi profesional guru PKn SMA Negeri di Kabupaten Magelang. Hal ini
dibuktikan dengan hasil uji t pada analisis regresi ganda, dimana t-hitung = 2.516
( sig = 0.023 < 0.05), berarti semakin tinggi latar belakang pendidikan guru
maka semakin tinggi kompetensi profesionalnya dan sebaliknya semakin rendah
latar belakang pendidikan guru maka semakin rendah kompetensi profesionalnya.
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pengalaman mengajar
terhadap kompetensi profesional guru PKn SMA Negeri di Kabupaten Magelang. Hal
ini dibuktikan dengan hasil uji t pada analisis regresi ganda, dimana t-hitung
= 0.585 ( sig = 0.013 < 0.05), berarti semakin tinggi pengalaman mengajar
maka semakin tinggi kompetensi profesionalnya dan sebaliknya semakin rendah
pengalaman mengajar maka semakin rendah kompetensi profesionalnya”. Dengan
adanya penelitian ini peneliti semakin yakin untuk membuktikan sekali lagi
dengan penelitian ini bahwa sangat pentingnya pengalaman mengajar dan latar
belakang pendidikan sangat penting dalam menyeleksi pendidik yang profesional
guna menunjang pendidikan di suatu sekolah yang lebih baik.
Menurut M Ngalim
Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2001; Cet. Ke-10, hal 253. Prestasi belajar meliputi segenap
ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar
siswa yang bersangkutan.
Prestasi belajar dapat dinilai dengan
cara:
a) Penilaian
formatif
Penilaian
formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik
(feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk
memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.
b) Penilaian
Sumatif
Penilaian
sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi
sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran
yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.
Menurut
Usep Setia Laksana dalam penelitian yang berjudul Hubungan Pelatihan, Pendidikan, dan Pengalaman mengajar tehadap
Profesionalisme Guru tahun 2009, bahwa “terdapat hubungan positif antara
pendidikan, pelatihan dan pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru
bagi seorang guru adalah pendidikan pelatihan, pendidikan, dan pengalaman
mengajar. Oleh karena itu guru profesional adalah orang yang memiliki kemempuan
dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain guru profesional
adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman
yang kaya di bidangnya. Sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi maka guru-guru perlu pengembangan dan peningkatan ketrampilan melalui
berbagai pelatihan. Hal ini juga akan mendukung penerapan kemampuan yang
diperolah dari pendidikan formal, karena pendidikan dan pelatihan (Diklat)
merupakan salah satu fungsi operasional manajemen sumber daya manusia yang
harus dilaksankan. Dengan pendidikan dan pelatihan guru berarti memberikan
kesempatan pada guru untuk meningktkan kualitas kerjanya”.
C. Kerangka
Fikir
Pertama,
pengalaman mengajar. Menurut Darwis A. Soelaiman (1975: 115), Pengalaman adalah
proses mengadakan hubungan dengan lingkungan, sedangkan tujuan dari pengalaman
adalah untuk mengerti tentang lingkungan tersebut. Pengalaman mengajar guru
adalah apa yang telah dialami oleh guru selama menjalankan tugasnya sebagai
guru. Sumitro (2001: 70) mengatakan, “hal yang perlu diperhatikan oleh guru
adalah mereka harus senantiasa meningkatkan pengalamannya, sehingga mempunyai
pengalaman yang banyak dan berkualitas yang dapat menunjang keberhasilan dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya.” Pengalaman adalah guru yang baik, karena
keterampilan memecahkan persoalan dalam proses belajar mengajar kurang
didapatkan guru melalui pendidikan formal yang ia tempuh, tapi lebih banyak
didasarkan pada pengalaman yang telah ia dapatkan selama ia mengajar.
Pengalamanpengalaman bermanfaat yang diperoleh selama mengajar tersebut akan
dapat mempengaruhi kualitas guru dalam mengajar. Ahmad Barizi (2009: 142)
berpendapat bahwa “Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua
aspek yang mempengaruhi profesionalisme seorang guru di bidang pendidikan dan
pengajaran.
![]() |
|||||
![]() |
|||||
Kedua, latar
belakang pendidikan. Ahmad Gazali
(2012: 26) Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur
guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang
pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat
profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan
kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya,
faktor-faktor inilah yang akan banyak mempengaruhi profesionalisme mengajar
seorang guru. Ahmad Barizi, (2009: 142) berpendapat bahwa guru pemula dengan
latar pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung
pengabdiannya, sedangkan guru yang bukan berlatar pendidikan keguruan akan
banyak menemukan banyak masalah dalam pembelajaran. Latar belakang pendidikan juga dapat
dijadikan sebagai salah satu patokan guru profesional, hal ini dikarenakan
latar belakang pendidikan sangat banyak pengaruhnya terhadap tingginya
kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru, menurut Sudarwan Danim (2002: 30)
“Seorang guru dikatakan profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif. Pertama, latar belakang pendidikan, dan kedua, penguasaan guru
terhadap materi bahan ajar, mengelola pembelajaran, mengelola siswa, melakukan
tugas bimbingan dan lain-lain.” Sudarwan Danim (2002: 34) juga mengutip
pendapat Semiawan yang mengemukakan hierarki profesi tenaga kependidikan,
yaitu:
“(1) Tenaga profesional, berkualifikasi
sekurang-kurangnya S1 atau yang setara,
(2) Tenaga semi profesional, berkualifikasi
D3 atau yang setara,
(3) Tenaga Pra profesional,
berkualifikasi D2 kebawah.”
![]() |
|||||
![]() |
|||||
Mengingat
profesionalisme guru dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut, maka dalam
penelitian ini kedua hubungan tersebut akan diteliti baik secara parsial maupun simultan, dengan paradigm
sebagai berikut :
Pengaruh pengalaman mengajar
dan latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru
Keterangan :
X1 = pengalaman mengajar
X2 = latar belakang
pendidikan
Y = profesionalisme guru
|
1. garis
pengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru (hubungan parcial)
2. garis
latar belakang pendidikan terhadap profesionalisme guru (hubungan parcial)
3. garis
pengaruh antara pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan terhadap
profesionalisme guru
|
D. Hipotesis
Mengingat adanya tiga
hubungan seperti diatas, pada kerangka konseptual maka hipotesis dalam
penelitian ini juga terdapat tiga poin, diantaranya :
·
Hipotesis pertama : pengalaman mengajar berpengaruh positif terhadap
professionalisme guru
·
Hipotesis kedua : latar belang pendidikan berpengaruh positif terhadap
profesionalisme guru
·
Hipotesis ketiga : pengalaman mengajar dan latar belakang pendidikan
berpengaruh positif terhadap profesionalisme guru.





Ijin ambil materi ya bos...
BalasHapus